Deskripsi
Penulis: Annisa Lin
ISBN: Sedang Diajukan
Kertas: Book Paper 52 Gram
Ukuran: 13 x 19 cm / Doff
Jumlah Hal: BW 320 Halaman
Danish Arhan Giyan dikenal sebagai putra pemilik biliar, Arbani Soetanto, yang dianggap kurang pergaulan karena jarang menerima teman-temannya sebagai tamu di rumah oleh tetangga sekaligus teman masa kecilnya, Nadine Kayavine. Kesibukan Arhan sehari-harinya hanya pergi ke kampus dan pulang pada jam normal lalu membantu sepupunya, Aditama Nugraha, yang dipekerjakan di biliar oleh sang ayah pada sore sampai malam hari.
Arhan hanya hidup berdua dengan sang ayah. Sejak Arhan berusia lima tahun, ibunya memutuskan untuk pergi tanpa membawanya, pula tidak memberitahu ke mana ibunya pergi. Arhan hidup terkatung-katung selama belasan tahun bersama pertanyaannya yang belum memiliki jawaban sampai saat ini. Ia terus bertanya-tanya mengapa ibunya pergi tanpa membawanya. Karena peristiwa itu, Arhan sempat merasa kehadirannya tak diinginkan sang ibu, dan itu sangat melukainya.
Arhan menjadi pendiam ketika ia berhenti menanyakan kenapa ibunya pergi tanpa membawanya pada sang ayah. Hidupnya mendadak ditutup rapat-rapat tanpa diberi celah untuk mengintip sedikit pun. Sampai statusnya yang merupakan anak tiri Arbani Soetanto pun dirahasiakannya dari orang-orang terdekatnya, termasuk dari teman masa kecilnya, Nadine Kayavine. Di balik diam dan kehidupannya yang tertutup, Arhan yang Nadine kenal sebagai pemuda kurang pergaulan itu ternyata memiliki kehidupan lain sebagai Giantara, yang justru baru dimulai ketika biliar tutup.
Arhan bergabung dengan sebuah tim balap lokal yang sering mengikuti turnamen dalam dan luar negeri sebagai mekanik. Kehidupan malamnya itu pun tidak diketahui oleh siapapun, termasuk Nadine. Arhan memiliki satu motor sport full modifikasi yang ia simpan di ruangan khusus di samping ruangan ayahnya di biliar. Motor dan ruangan itu juga tak luput Arhan sembunyikan dari orang-orang terdekatnya, kecuali Aditama. Aditama lah yang seringkali dimintai bantuan oleh Arhan jika kehidupannya yang satu ini mulai terendus oleh Nadine. Ia sering berkilah dan berbohong kepada Nadine. Alasannya karena ingin melindungi Nadine dari keganasan kekasihnya, Bimo Aryantoro.
Selain karena memiliki kehidupan lain, kamuflase Arhan sebagai Giantara juga dilatarbelakangi kekhawatirannya pada Nadine yang sering menjadi samsak Bimo ketika mereka sedang bertengkar. Nadine berulang kali mendapat tindak kekerasan dari Bimo dan perlakuan tidak menyenangkan lainnya. Ketika sedang nge-date, Nadine tak jarang tiba-tiba ditinggalkan Bimo di pinggir jalan. Arhan yang mengetahui itu jelas geram, ia tidak terima jika teman masa kecilnya diperlakukan seperti itu. Bukan hanya sering ditinggalkan, keributan mereka bahkan sampai Bimo memukul Nadine juga pernah tertangkap CCTV yang berada di biliar. Sejak saat itu, ketika Arhan melihat atau tahu Nadine jalan dengan Bimo, ia selalu mengikuti dengan motor sportnya yang tidak pernah Nadine tahu keberadaannya itu untuk memastikan Nadine baik-baik saja dan tidak ditinggalkan lagi, di mana pun. Dengan begitu, Nadine tidak akan menyadari apalagi mengenali jika Arhan selalu berada di sampingnya.
Selain itu, kamuflase tersebut juga berguna bagi Arhan untuk membalas perlakuan Bimo terhadap Nadine, tanpa harus menunjukkan siapa dirinya karena Arhan khawatir Nadine akan merasa tidak nyaman atau menganggap Arhan terlalu ikut campur.
Karena sudah kepalang tak sehat, suatu hari, saat event balap digelar di Singapura, Bimo yang kedapatan menggandeng wanita lain setelah Nadine mendapat pengaduan dari sahabatnya (Kamania Agni) yang menonton event itu secara langsung di Singapura, akhirnya memberanikan diri mengambil keputusan untuk berpisah. Mengetahui Nadine putus dari Bimo, Arhan perlahan mulai membuka diri dan mengizinkan Nadine masuk ke kehidupan lain yang selama ini ia sembunyikan.
Termasuk kehidupannya sebagai anak tiri Arbani Soetanto, permasalahannya dengan sang Ibu, atau kehidupannya sebagai Giantara.
Saat hubungannya dengan Nadine mulai memasuki fase yang berbeda, Arhan kembali dibuat risih saat ibunya yang sudah lama pergi, muncul kembali dan ingin menemuinya karena ingin berpamitan pergi ke luar negeri untuk melangsungkan pernikahan ketiganya dengan pria bule. Arhan yang sudah benar-benar muak pada sang ibu, justru malah dihadapkan dengan fakta tentang ayah kandungnya yang ternyata sudah lama wafat.
Arbani Soetanto yang sudah lebih dulu mengetahui jika Tara Irshadi (ayah kandung Arhan) wafat dan menyimpannya sendiri selama beberapa tahun karena Arhan tak pernah ingin lagi membicarakan kedua orangtuanya, akhirnya membaginya pada Arhan.
Merasa bersalah, Arbani menyerahkan keputusan pada Arhan agar memilih ingin tetap tinggal dengannya di tanah air, atau menyusul ibunya ke Kanada.
Arhan memilih Kanada, tetapi hanya untuk bertemu dan bicara dengan ibunya untuk yang terakhir kali. Ia mengejar jawaban atas pertanyaannya selama 15 tahun terakhir. Serta Arhan ingin menanyakan secara langsung mengapa ibunya tega memisahkan ia dengan ayahnya.
Arhan kembali ke tanah air dan memutuskan tetap tinggal bersama ayahnya.
Annisa Lin
Penulis





