Deskripsi
Penulis: Valerie
ISBN: Sedang Diajukan
Kertas: Book Paper 52 Gram
Ukuran: 13 x 19 cm / Doff
Jumlah Hal: BW 336 Halaman
Acropolis Residence di Jalan Pejaten Barat selalu menjual dirinya dengan iming-iming rumah ala vila di Bali, tapi berlokasi di pusat Kota Jakarta. Tiap rumah memiliki driveway, halaman belakang, serta kolam renang pribadi yang menjamin ketenangan tanpa gangguan dari luar. Jarak antar rumah yang terhitung cukup memberi privasi serta penjagaan kompleks yang ketat benar-benar bisa mewujudkan hidup yang tenteram.
Selama bertahun-tahun sejak pertama pemasaran, hal tersebut nyata adanya. Setelah satu per satu rumah terisi dan penghuninya berhasil membangun komunitas kecil yang saling mengerti kebutuhan satu sama lain akan ketenangan di hiruk pikuk ibu kota, Acropolis Residence menjadi tempat idaman setiap keluarga.
Kecuali pada tahun 2001 dan 2002. Pada tahun itu, tepatnya di blok IV, tiga deret rumah diisi oleh tangisan bayi yang saling bersahutan setiap malam.
Tangisan pertama dimulai dari rumah di bagian tengah pada minggu terakhir bulan November. Starla dan Kevin, pasangan yang pindah dua tahun lalu bersama anak laki-laki pertama mereka, Kynan, dikaruniai anak laki-laki kedua. Satu minggu di rumah sakit, Helio lahir saat matahari sedang terik-teriknya.
Kedua, tiga bulan setelahnya, rumah di bagian kiri milik pasangan Roy dan Sarah ikut diisi satu anak lagi. Namanya Fauzi, anak laki-laki yang pada tahun-tahun berikutnya sering terdengar bertengkar dengan kakak perempuannya, Jeha.
Terakhir, berbeda dari dua sebelumnya, adalah anak perempuan. Tangisannya paling keras di antara Helio dan Fauzi, mengiringi munculnya bulan pada salah satu malam bulan Juli. Namanya Luna, artinya bulan. Kedua orangtuanya, Dimas dan Alma, suka dengan konsep nama Helio yang merupakan personifikasi dari matahari.
Sekarang, 16 tahun kemudian, ketiga anak tersebut masih menjadi sumber kebisingan kompleks. Bedanya, kalau dulu suara yang bersahut-sahutan adalah tangisan, kini justru diisi dengan teriakan lirik lagu, makian kata kasar, atau panggilan untuk berangkat sekolah bersama—yang terakhir itu konsisten berlangsung selama sebelas tahun. Kadang, ketiganya terjadi secara berurutan.
Helio sedang memainkan piano klasik putih hadiah ulang tahun ke-16-nya, melatih sebuah lagu yang akan dimainkannya besok di depan pelatih musik, ketika Luna meneriakkan protes bahwa ia mengganggu ketenangan malam gadis itu.
Valerie
Penulis





