Deskripsi
Penulis: Cindyana H
ISBN: Sedang diajukan
Kertas: Bookpaper 52 Gram
Ukuran: 14 x 20 cm / Doff
Jumlah Hal: BW 402 Halaman
Sinopsis
Derap langkah di lantai atas yang semula terdengar berirama, tiba-tiba saja menjadi hening. Aku yang sedang bersiap-siap membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan, langsung mendongak ke langit-langit.
Aku memang tidak bisa melihat tembus pandang, tapi aku dapat menerka apa yang dilakukan oleh duo Shinozaki itu di atas sana.
“Hei, kalian kenapa?” tanyaku dari lantai bawah. Suaraku lumayan keras, tapi tidak sampai membuat seantero rumah mendengarnya.
Ibu yang sedang duduk di ruang tengah juga ikut mendongak karena dua Shinozaki mendadak hening di atas sana. Kami memang sering saling mengunjungi rumah masing-masing, karena rumah kami berdekatan. Bibi Izumi dan Ibu merupakan sahabat sejak dulu, itu juga berlaku untuk anak-anak mereka.
“Loh, tumben jadi hening,” kata Ibu, kembali menolehkan kepalanya ke layar televisi.
Ibu juga sudah terbiasa dengan keributan yang dibuat oleh kami. Aku kadang ragu kalau Ibu ingat bahwa anaknya hanya satu, hal yang sama juga berlaku untuk Bibi Izumi. Pernah sekali Bibi Izumi mengiyakan saja saat ada yang bertanya apakah aku adalah anaknya, lalu orang itu menerka bahwa aku adalah anak bungsu Bibi Izumi, padahal Kayaka lebih muda beberapa bulan dariku.
“Kayaka! Kayato! Kalian berdua sedang apa di atas?” tanyaku dengan suara keras. “Kalau kalian merencanakan hal usil kepadaku, aku tidak akan naik, loh!”
Hening, tidak ada jawaban.
“Kayaka, Kayato!” seruku, kali ini makin keras.
“Rin, jangan teriak-teriak dalam rumah!” tegur ibuku yang membuatku terdiam.
Aku meletakkan nampan yang kubawa di atas meja, lalu berlari naik ke atas. Saat kubuka pintu kamarku, keduanya sedang diam dan menatap ke luar jendela. Kuhela napasku dengan sedikit lega. Bukankah wajar jika aku masih merasa waspada? Mereka bilang masalah kami dengan dimensi sihir itu telah berakhir, tapi aku tetap tidak lega untuk beberapa alasan.
“Kalian sedang lihat apa?” tanyaku sembari mendekat ke jendela.
“Eh! Tidak apa-apa!” balas Kayaka dan Kayato bersamaan.
Keduanya langsung menutup jendela dan tirai secara kompak. Sepertinya, mereka melakukannya tanpa sengaja, karena ketika mereka berdua menyadari kekompakkan mereka yang janggal, keduanya saling bertatapan bingung.
***
Cindyana H
Penulis






