BIMALARA CINTA
Buy This Book

Deskripsi

Penulis: Melsanda Oktaviani 

ISBN: Sedang diajukan

Kertas: Bookpaper 52 Gram

Ukuran: 13 x 19 cm / Doff

Jumlah Hal: BW 282 Halaman

Sinopsis

Dengan cara apa pun anak itu dilahirkan, setiap anak berhak dicintai.

Jangan menyerah dulu, ini belum usai, pikir gadis berusia dua puluh tahunan itu. Mata bulatnya berkaca-kaca dengan kaki melangkah tanpa henti. Beberapa orang hampir menabrak tubuh mungilnya yang rapuh. Langkahnya terasa melambat beriringan dengan hatinya yang sesak. Dadanya terasa terhimpit begitu mendengar kabar paling buruk selama ia hidup. Tepat di depan IGD, dua orang lelaki berbadan kekarsatunya memakai jas putih kebanggaannya menyambut dengan tatapan sinis. “Ayah dan Ibu hanya menginginkan kamu di sisa akhir hidupnya, Ana,” ucap lelaki berjas putih bernama Asnan, kakak pertamanya.

“Kami sungguh tidak diinginkan.” Kemudian, kakak keduanya yang bernama Amar menyahut.

“Maaf Dokter Asnan, kedua orang tua anda terus menyebut nama Anatari Bimalara. Apakah dia berada di sini?” Seorang suster tiba di hadapan mereka.

Asnan menunjuk ke arah gadis di sampingnya, Anatari Bimalara. Gadis yang merasa hidupnya telah hancur, pada hari di mana kecelakaan orang tuanya diberitahukan. “Masuklah sendirian,” ucap Asnan penuh penekanan, dengan tatapan tidak suka begitu kentara.

Dengan isak tangis tanpa henti, gadis yang disebut sebagai Anatari itu memasuki IGD. Langkahnya terasa bergetar, tidak mampu menopang tubuhnya sendiri. Untung saja seorang suster di sebelahnya begitu sigap. Ia menatap dua brankar yang bersebelahan dengan tatapan kosong. 

“Ana.…” Panggilan lirih ayahnya terdengar.

Saat Anatari sudah mendekat, Ayah Adzwar meraih tangan kanannya. “Bimalaranya Ayah, tolong pergilah ke pesantren Al-Izhar.” Dengan suara lirih, Anatari sendiri hampir sulit memahami perkataan sang ayah.

“Mengapa berkata seperti itu? Ayah dan Ibu harus sembuh. Ana akan rawat kalian, begitu pun dengan Abang Asnan dan Abang Amar,” katanya dengan air mata mengalir.

Ayah Adzwar menggelengkan kepalanya. “Tidak ada yang mampu mengurusmu setelah kami pergi nanti, dan carilah tentangmu yang sebenarnya di sana.”  

“Maksud Ayah apa? Ana putri kalian, kan? Kenapa perkataan Ayah seolah-olah Ana bukan putri ka—”

Ibu Rivana menyela perkataan Anatari. Wanita dengan sorot mata sayunya itu lantas berkata, “Kamu memang bukan putri kandung kami, Ana.”

Tidak mungkin. Jika digambarkan bagaimana kehidupan keluarga mereka, semuanya terlampau sempurna. Anatari bak seorang Princess dengan keluarga bahagia. Ini tidak mungkin! Sama sekali sulit untuk dipercaya, terlebih saat mengingat perlakuan kedua orang tuanya yang begitu baik selama ini.

“Pergilah ke dalam pesantren—A-argh….” Ayah Adzwar meringis kesakitan memegangi kepalanya yang retak, Anatari seketika panik bukan main. Dokter dengan gesit menangani keadaan Ayah Adzwar. 

Terlalu fokus memperhatikan, Anatari tidak sadar bahwa sang ibu tengah menatap ke arahnya. “Ana.…” Suara ibunya mulai terdengar.

Dengan alat bantuan napas, wanita itu berusaha berbicara kembali. “Maafkan kami, Nak.… Selama ini, kamu dimanfaatkan hanya untuk harta. Keluarga kami tanpa kehadiran kamu hanyalah orang miskin semata, keluarga kandung kamu yang menyelamatkan kami dari kemiskinan ini.” Sang ibu menangis terisak menahan rasa sakit.

“Kami meminta maaf, Nak. Carilah keluargamu di dalam pesantren Al-Izhar, kamu bisa pergi dan tinggal di—”

“Hentikan, Bu. Ana tidak mau mendengar apa pun lagi!” Anatari berteriak sambil menutup kedua telinganya. Ia sudah tidak sanggup mendengar apa pun.

Ibu Rivana menggelengkan kepalanya. “Tidak, Nak. Ini kesempatan terakhir kami. Ana, dengarkan baik-baik. Nama ibumu Nalara dan Ayahmu Bima Anugrah. Kamu terlahir dari hubungan tidak sah. Itu sebabnya mereka menitipkan kamu kepada kami.” 

 Jantung Anatari berdebar semakin tak karuan.

Sang ibu bersusah payah meraih tangan Anatari. Digenggamnya dengan erat. “Namun, dengan apa pun cara anak itu dilahirkan, setiap anak berhak dicintai. Itu sebabnya kamu selalu dicintai oleh Ayah dan Ibu. Karena tidak ada kesempurnaan tanpa keluarga, dan tidak ada kebahagiaan tanpa orang tua. Carilah Ibu dan Ayah kandungmu untuk mendapatkan kesempurnaan itu kembali, Nak,” ucap Rivana sebelum pada akhirnya menutup mata untuk selamanya.

“Bu?” panggil Anatari, sedikit menggoyangkan tubuh ibunya. “Ibu!” teriaknya ketika napas sang ibu sudah tidak ada.

Beberapa suster mendekat dan memeriksa kondisi ibu Anatari, mengabaikan tangisan Anatari yang semakin keras. Suster itu menoleh, menatap simpati seakan membenarkan jika sang ibu benar sudah tiada.

Anatari berjalan linglung mendekati brankar ayahnya saat melihat Dokter menghentikan penanganannya. “Ada apa, Dokter?” tanya Anatari dengan perasaan tidak enak.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Mohon maaf, Ayahmu juga sudah tiada.”

Kehidupan sempurna Anatari seakan direnggut seluruhnya.

***

Melsanda Oktaviani

Penulis