Chamomile
Buy This Book

Deskripsi

Penulis: Luluk HF

ISBN: Sedang Diajukan

Kertas: Book Paper 52 Gram

Ukuran: 14,5 x 21 cm / Doff

Jumlah Hal: BW 320 Halaman

Sinopsis

Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Suasana aula yang semula sunyi, berubah menjadi tangis haru. Mata terpejam erat dan hati berkecamuk dirasakan semua siswa dan siswi SMA Savana.

Bayangkan, saat pulang, kamu melihat keramaian di rumah kamu. Bayangkan, kamu pulang melihat ibu dan ayah kamu sudah berbaring lemah berbungkus kain putih….”

Suara tangis semakin terdengar keras. Teriakan memanggil orangtua masing-masing seolah mereka semua tengah menyesali segala perbuatan.

“Gue nggak pernah tau siapa orangtua gue dan gue juga nggak pernah bertemu orangtua gue. Gimana gue bayanginnya?”

Kedua mata Alen seketika terbuka. Air matanya yang sudah di ujung mata, terpaksa harus kembali masuk hanya karena pertanyaan Sanda, sahabatnya. Alen menoleh pada Sanda dengan kedua mata menyorot tajam. Terlihat jelas wajah tak berdosa Sanda dengan kedua tangan melipat, tak ada kesedihan atau setitik keharuan di wajahnya. Berbeda dengan semua teman-temannya yang menjerit bak orang kesurupan.

“Marsanda, lo bisa nggak, nggak hancurin suasana haru ini?” tajam Alen menahan kesal.

Sanda menoleh pada Alen dengan tatapan tak berdosanya. “Gue serius nanya. Gue harus bayangin siapa?”

“Seengaknya kalau lo nggak bisa bayangin orangtua lo, lo kan bisa pura-pura ikut terharu atau nangis aja?” Alen dengan cepat memutar kepala Sanda agar kembali menatap ke depan.

“Gimana gue nangisnya? Orangtua aja gue nggak punya?” balas Sanda tak mau kalah. Gadis itu menatap Alen kembali.

Alen mendecak kesal.

“Lo mau pinjam mama gue? Dengan senang hati gue ka—”

“Nggak. Makasih atas tawarannya yang sangat mulia,” tolak Sanda tanpa pikir panjang.

“ALEN! MARSANDA!”

Alen dan Sanda merasakan bulu-bulu di tangan mereka merinding hebat karena suara dari belakang. Alen dan Sanda perlahan membalikkan badan, tersenyum dengan bodohnya saat mendapati tatapan tajam dari Pak Selamet, sang guru olahraga.

“Kalian berdua keluar sekarang juga! Berdiri di depan Aula!”

***

Luluk HF

Penulis