Deskripsi
Penulis: Nurwina Sari
ISBN: Sedang diajukan
Kertas: Bookpaper 52 Gram
Ukuran: 13 x 19 cm / Doff
Jumlah Hal: BW 322 Halaman
PROLOG
Ketahuilah, bahwa kamu, tawa, dan aku adalah kenangan yang belum.
Lonceng elektronik berseru besar di sebuah sekolah yang terakreditasi A+ di tengah-tengah kota Jakarta, menyerukan kepada para pelajar untuk menikmati jam istirahatnya. Kantin yang semula sepi, mendadak ramai di detik yang kelima.
"Jadi kesimpulannya, cari tempat dimana kamu dihargai, bukan dibutuhkan," kata Genta.
"Cari orang yang mencintai kamu, bukan yang kamu cintai," lanjut Bunga, ikut berbicara.
Ya, mereka sedang berpendapat atas sebuah film yang baru saja selesai mereka nonton di jam kosong, pelajaran pertama. Di mana, pada film itu, bercerita tentang seorang tokoh utama perempuan, yang terkesan ‘berlebihan’ atas perasaannya, atas segala-galanya. Fokus pada satu orang yang ia cintai namun menyakitinya terus-menerus.
Ilusi kemudian ikut beranjak dari tempat duduknya, mengejar Genta dan Bunga yang ingin ke kantin, "Tapi, gue nggak sepakat."
"Memilih untuk mencintai duluan, dan mempertahankan perasaan itu hingga akhir, nggak begitu buruk."
"-Karena bagi gue, gue ingin hidup, dengan apa-apa yang gue cintai. Bukan cuman dengan yang mencintai gue saja. Karena resikonya, adalah gue yang belum tentu akan bahagia."
Bunga tersenyum tipis, masih terbawa suasana film yang mereka tonton, "Perasaan sepihak, mau sampai kapanpun, nggak akan pernah membawa kebahagiaan. Di bumi, banyak yang memilih selesai dengan rasanya, dibanding harus mengorbankan diri."
"Kita bisa mengusahakannya lagi," lawan Ilusi, percaya diri.
Sesekali langkah mereka terhenti karena pembahasan tersebut, "Berusaha untuk apa? untuk memperpanjang episode mengemis?" tanya Bunga. "Cinta juga punya tata kramanya. Jangan menawarkan apalagi meminta sesuatu pada orang yang nggak butuh, atau nggak punya. Nggak sopan namanya."
Ilusi menarik nafasnya, menggeleng, tidak sepakat dengan yang Bunga katakan, "Lo berpikir kayak gitu, karena lo nggak pernah ngerasain gimana rasanya jatuh cinta, yang benar-benar jatuh. Dimana, lo sakit, tapi lo senang."
Ketiga siswa itu berbelok, memasuki kantin yang sedang ramai-ramainya. Genta melerai kedua temannya, matanya kini fokus pada banyak jajanan yang ada di kantin, “Udah… udah, cuman sebuah film kok, it’s just fiction, lebay banget.”
Ya, hanya sebuah fiksi belaka.
“Lagian, orang-orang tuh kalau di sekolah debatnya tuh pelajaran, bukan debat kayak gini,” lanjut Genta.
Ilusi dan Bunga juga tidak ingin bertahan lama dengan pikiran dan perdebatan yang berlebihan tentang film itu.
Selanjutnya, mereka sama-sama sepakat untuk mengambil antrian di depan Gerai jus. Ilusi dengan jus jeruk favoritnya, Bunga dengan jus buah naga. Dan, Genta dengan jus apelnya. Di posisi mereka, juga banyak siswa yang sedang antri.
"Es batunya banyakin, ya, Bu, Ilusi suka es batu soalnya haha," kata Genta pada penjual jus. Kebiasaan aneh Ilusi adalah mengemil es batu. Sering.
"AKU LAGI FLU, NGGAK USAH, YA, BU," tolak Ilusi besar. Takut tenggorokannya semakin meradang.
Sembari menunggu pesanan jus mereka selesai di buat, Genta dan Bunga memilih bergerak ke gerobak pangsit, sebelum kehabisan. Sedangkan Ilusi tetap di gerai jus, menunggu. Begitu sepakat mereka sejak dulu. Sejak bersahabat.
Cukup lama berdiri di depan Gerai Jus, Ilusi merasa sangat gerah dengan suasana kantin yang semakin ramai dan berdesak-desakan. Ia mulai tidak tenang, dan perlahan, kakinya mulai maju-mundur.
Duk!
Tubuh Ilusi terbentur dengan badan seseorang yang sedang berdiri di belakangnya. Pada dada bidang laki-laki itu, ada kepala dan pundak Ilusi yang bertumpu.
"Eh, sorry, sorry."
Ilusi memutar kepalanya cepat, melihat ke belakang. Ditatapnya laki-laki yang punya tinggi badan lebih tinggi darinya, berkulit putih, dan berhidung mancung. Melalui sorotan mata dingin laki-laki itu, Ilusi bisa melihat pantulan jelas dirinya di sana. Sesaat mata mereka saling beradu.
Ketika telah sempurna membalikkan badannya, Ilusi kembali minta maaf, "Gue nggak tahu kalau ada orang di belakang. Maaf, ya."
Yang jadi lawan bicara Ilusi hanya setengah mengangguk, lalu melangkah maju ke depan, mendahului Ilusi. Seperti tidak memusingkan yang baru saja terjadi.
Dia Razi.
Ilusi tahu itu, meski berbeda kelas. Razi itu terkenal, entah dari segi pertemanan, keluarga, maupun prestasi non akademiknya. Banyak siswa-siswi SMA ANDROMEDA yang membicarakannya. Dan sejauh ini, Ilusi cuman jadi seorang pendengar atas cerita dari laki-laki itu. Seperti, Ilusi juga tidak begitu tertarik untuk melihat ke arah Razi.
“Waduh ini uangnya kegedean,” kata pemilik Gerai Jus kepada Razi. Telinga Ilusi mendengarnya samar-samar dari belakang. Namun, ia tidak mendengar lagi lanjutan dari obrolan mereka.
Lalu ketika giliran Ilusi yang mengambil pesanan jusnya, dan menyodorkan uang bayaran, pemilik Gerai jus menolak dan berkata, “Nggak usah bayar, gratis buat hari ini.”
“Tumben?”
“Rejeki, Neng.”
Spontan, Ilusi melihat ke arah Razi yang sudah jalan berbalik dari Gerai jus. Pundak laki-laki itu, cara jalannya, terlihat menawan memang. Ilusi bahkan melihat banyak mata yang melirik dan terang-terangan menatap Razi saat itu.
“Mas Razi juga termasuk rejeki, Neng.”
“Rejeki apa?”
“Rejeki masa depan.”
Ilusi menarik senyum, ia menganggap pemilik Gerai Jus ini sedang melucu.
***
Nurwina Sari
Penulis






