ESCAPISM
Buy This Book

Deskripsi

Penulis: ELLAMOON (@ellamoontime)

ISBN: Sedang diajukan

Kertas: Ivory 52 Gram

Ukuran: 14 x 20 cm / Doff

Jumlah Hal: BW 302 Halaman

Sinopsis

16 April 2025

Deru angin bertiup kencang menghantam kaca-kaca mobil yang bergerak secara perlahan di jalan raya Ibu Kota. Derasnya air hujan yang turun membasahi bumi tidak mempengaruhi macetnya arus lalu lintas pada sore hari itu. Bunyi gemuruh serta petir yang menyambar beberapa kali menemani langit gelap yang dibawa hujan tersebut.

Di atas salah satu gedung dengan rooftop yang dihiasi dengan berbagai macam tanaman kebun, seorang laki-laki tampak berdiri menatap ke arah langit. Tubuhnya dibasahi oleh air hujan yang kian turun tanpa ampun. Setelan jasnya yang terlihat mewah tampak berantakan, tubuhnya yang tegap dan tinggi entah kenapa terlihat lelah.

Laki-laki tersebut menghisap rokoknya yang sudah setengah habis, berusaha menghilangkan sakit kepala yang dideritanya seminggu terakhir. Entah itu karena kurang tidur, pekerjaan yang menumpuk, permasalahan dalam perusahaan atau kondisi putrinya yang sekarang sedang terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit ini.

El Barra selalu menyukai hujan. Mungkin karena dia tinggal cukup lama di kota London. Salah satu kota dengan curah hujan tertinggi di dunia, di mana dia menghabiskan waktu bahagia bersama mendiang istrinya. Melihat hujan membuatnya merasa tenang.

Namun, hujan deras yang turun hari itu di Ibu Kota tidak memberikan rasa tenang sama sekali pada dirinya. El Barra setengah berharap berdiri di bawah hujan seperti ini bisa membuatnya sedikit lupa dengan segala yang dia sedang alami.

Sayangnya, tidak ada yang terjadi. Dia hanya berakhir seperti orang bodoh yang basah kuyup karena diguyur air hujan, sembari menatap ke arah langit seolah mengharapkan jawaban dari semua pertanyaannya.

Apakah begitu sulit untuk bahagia?

Mengejar dan mencari kebahagiaan adalah hal yang sulit, tapi menjaga kebahagiaan tersebut juga ternyata tidak kalah sulitnya. Dia tidak memiliki alasan untuk menetap di dunia jika bukan karena putri semata wayangnya.

Jika sesuatu yang buruk terjadi pada anak itu, untuk apalagi dia bertahan? Apa yang harus dia lakukan ketika seluruh uang dan harta yang dimilikinya mungkin tidak bisa menyelamatkan anaknya yang sedang terbaring lemah saat ini?

Apa memang semesta tidak menginginkannya untuk bahagia?

Barra kembali menghisap gulungan tembakau dikedua jarinya yang sudah setengah padam. Padahal, dia sudah berjanji tidak akan sering merokok, tapi kali ini dia tidak punya pelarian lain. Pikirannya begitu penuh dengan berbagai hal yang memberatkan, hingga dia tidak menyadari kalau ada sosok yang sedang menatapnya dari bangunan tinggi yang berdiri berjajar dengan rumah sakit tempat dia sekarang.

“Ananta,” sebuah suara memanggil sosok yang sejak tadi sedang memperhatikan sesuatu yang jauh dari pandangannya. Dia berbalik dan mendapati sosok lain sedang berdiri di belakangnya.

Sosok lain tersebut mengenakan pakaian yang mirip dengan Ananta. Setelan baju hitam yang ditutupi oleh jubah berwarna ungu gelap. Mereka berdua terlihat sangat mencolok di tengah hiruk pikuk para karyawan perkantoran yang sedang berlalu-lalang menyelesaikan pekerjaan mereka. Bukan karena penampilan mereka wajar di sana, tapi kehadiran mereka memang tidak terlihat. 

“Tasmira, bukannya kamu mengantar ke Jiwana?” Ananta bertanya, matanya masih menatap sosok El Barra yang berada di seberang gedung tempatnya berada. 

“Sudah selesai. Terus kamu? Masih cari kunci yang hilang itu? Lagian kenapa dulu kamu biarkan kunci kupu-kupu itu hilang?” Tasmira ikut menatap ke arah El Barra yang sedang mematikan rokoknya.

“Bukan hilang, tapi dititipkan.” 

“Dia orang yang pegang kuncinya? Makanya kamu penasaran?” Tasmira menunjuk El Barra yang membuang rokoknya ke tempat sampah sebelum menyisir rambutnya yang basah. 

“Bukan. Tapi kunci itu akan datang padanya.” 

“Maksudnya?” tanya Tasmira masih menatap El Barra yang kini berjalan masuk kembali ke dalam gedung rumah sakit. Dia sedikit kebingungan menatap sosok yang bukannya meneduh saat hujan, tapi malah berdiri cuek di bawah rinainya. 

“Permainan semesta,” jawab Ananta singkat. 

Entah mengapa dia memiliki perasaan bahwa tugasnya sebagai pemandu manusia yang akan mengarungi waktu, akan berhubungan dengan pria bernama El Barra tersebut. 

“Tapi, memangnya kamu sudah tahu siapa yang megang kunci kupu-kupu itu sekarang?” Tasmira menurunkan penutup kepala dari jubahnya, menampakkan wajah dari seorang wanita berusia empat puluh tahun dan cantik. Dia menatap Ananta yang tersenyum seperti seolah telah berhasil memecahkan teka-teki. 

“Seorang manusia yang malang, Araya Rosalyn.” jawabnya yakin, sembari menatap hujan yang turun semakin deras. 

εїз εїз εїз 

ELLAMOON (@ellamoontime)

Penulis