Deskripsi
Penulis: Kak Nana @GARINGKRIUKKRESS23
ISBN: Sedang diajukan
Kertas: Bookpaper 52 Gram
Ukuran: 13 x 19 cm / Doff
Jumlah Hal: BW 282 Halaman
Sinopsis
Pada sore ini, matahari sudah ingin undur diri. Kencangnya angin pantai, membuat abaya
serta hijab seorang perempuan cantik bergerak tak tentu arah. Di sebelahnya, sang laki-laki
melepas pecinya sendiri sebab tadi sempat terjatuh karena kencangnya angin, membiarkan
rambutnya yang sedikit gondrong bebas berterbangan. Sepasang suami istri itu berjalan di atas
pasir putih, bergandengan tangan dengan latar sunset. Siluet mereka terlihat sangat cantik.
"Udah mau magrib. Kita cari masjid dulu, baru kita pulang," ucap sang laki-laki.
Si perempuan mengangguk. Ia berjalan lebih dulu dan baru dua langkah, perempuan itu
terkejut ketika tiba-tiba sang suami berada di depannya dan langsung menggendongnya di
punggung.
"Mas Ibra!" seru perempuan itu terkejut sekaligus kesal. Ia memukul pundak si laki-laki.
Laki-laki itu malah tertawa renyah. "Saya mau mewujudkan keinginan kelima Ning-nya.
Digendong orang yang sayang sama kamu di pantai."
"Mas Ibra sayang sama aku?" tanya perempuan itu yang tak mampu menahan senyumnya
sendiri.
"Saya udah menggendong kamu. Apa ini nggak cukup membuktikan dan menjawab
pertanyaan kamu?" tanya laki-laki itu balik.
Senyum perempuan itu semakin lebar, ia langsung melingkarkan tangannya di leher sang
suami dengan perasaan senang yang tidak dapat dijelaskan. "Seberapa ukuran sayangnya Mas
Ibra ke aku?"
"Gimana cara ukurnya?"
"Ya kalau Mas Ibra gendongnya cuma sambil berdiri, itu artinya sayangnya Mas Ibra
cetek, cuma sebatas mata kaki. Kalau gendongnya sambil jalan, itu artinya sayangnya Mas Ibra
biasa aja ke aku, cuma sebatas lutut. Tapi kalau lari—AAAAAA!!!" Belum selesai ia menjelaskan,
laki-laki itu sudah lari terlebih dahulu hingga membuat perempuan di gendongannya langsung
mengeratkan pegangannya.
"Kalau sambil lari, seberapa rasa sayangnya?" tanya laki-laki itu di tengah-tengah larinya.
"Ini, sih, bisa sampai langit!" sahut perempuan itu yang disambut tawa oleh sang suami.
Meski susah untuk berlari di atas pasir laut, ia tak peduli. Yang terpenting sekarang ini
istrinya senang. Suara tawa renyah dan indah ini sangat langka. Jarang sekali ia melihat dan
mendengar istrinya tertawa lepas seperti ini. Ia akan melakukan apa pun demi sebuah tawa
berharga dari perempuan yang mulia ini.
"Ning Anin," panggil laki-laki itu yang masih berlari.
"Hm?"
"Izinkan saya bantu kamu memenuhi semua list keinginan yang kamu punya," kata laki-
laki itu yang membuat sang istri tersenyum lebar.
"Makasih, Mas Ibra," ucap si perempuan terdengar tulus. Berilah aku waktu yang lama
berada di Bumi untuk membalas semua kebaikannya dan membahagiakannya. Kau boleh ambil
aku kapan saja, tapi setelah aku menyelesaikan semuanya, batinnya.
Perempuan itu tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya pada punggung sang suami
sambil menutup matanya. Tanpa sadar, setetes air mata jatuh membasahi baju laki-laki itu.
Bertepatan dengan itu, setetes cairan lain juga mengalir membasahi niqab hitam yang menutupi
separuh wajahnya.
Sederhana saja, Ya Allah. Mudahkanlah, jangan Kau persulit, batin perempuan itu lagi.
Kak Nana @GARINGKRIUKKRESS23
Penulis






