Deskripsi
Penulis: Loka Hati
ISBN: Sedang diajukan
Kertas: Bookpaper 52 Gram
Ukuran: 13 x 19 cm / Doff
Jumlah Hal: BW 300 Halaman
Harga: -
Sinopsis
Teriknya matahari siang merupakan salah satu faktor mengapa jam istirahat kedua terasa sangat lama. Faktor yang lain, adalah berteman dan berbicara dengan seorang Sagara Laut. Mungkin akibat kepanasan, atau bosan, atau entah apa alasannya, Sagara punya kebiasaan untuk selalu bertanya hal-hal yang kelewat berat selama istirahat kedua.
Contohnya, hari ini, di kelas dia bertanya, “Mana yang duluan muncul? Rasa cinta atau rasa berani? Does love make people brave or do you have to be incredibly brave to love?”
Gue mengedipkan mata beberapa kali. Kepala gue sudah terlalu panas karena dijemur. Kalau dipaksa untuk merenung lagi kayaknya otak gue bisa meledak. Mending gue fokus ke tugas sejarah yang belum gue kerjain saja.
“Menurut gue, sih, yang kedua,” jawab Nina secara enteng dengan senyum lebar di wajahnya. “Manusia, tuh, harus berani dulu baru bisa jatuh cinta, harus berani dulu untuk komitmen ngejalanin semua prosesnya. Iya, kan, Ji?”
Gue mengernyitkan dahi. Mana gue tahu!
“Hasil pemilu 1997, tuh, apa, sih?” Gue menghindari pertanyaan Nina dengan melontarkan pertanyaan lain. Dan, walau saat ini seluruh pandangan gue terpaku di buku tugas, gue bisa merasakan Sagara dan Nina memutar bola mata mereka.
“Ji,” Nina memanggil gue yang kemudian cuma gue bales dengan anggukan kecil. “Lu emang nggak pernah tertarik untuk ngobrol tentang cinta gitu, ya?”
Gue tertawa. Cara Nina bilang ‘cinta’, tuh, serius banget seakan-akan ini emang topik yang wajib dibicarakan semua anak SMA. “Kenapa emangnya?”
“Ya, lagian, kerjaan lu belajar, pulang, belajar, pulang. Lu, tuh, masih bisa suka sama orang, kan?” Nina memiringkan kepalanya supaya dia bisa melihat wajah gue yang menunduk ke arah meja.
Pertanyaan Nina yang barusan pun langsung dibalas Sagara dengan decakan singkat, seolah berkata, “Itu pertanyaan sensitif, bodoh.” Yang kemudian dibalas kembali oleh Nina dengan tatapan sinis yang berarti, ‘Ya udah, sih, gue, kan, nggak bermaksud.’
Gue menyaksikan semuanya dalam diam, sesekali ketawa, sementara mereka masih melanjutkan perdebatan absurd mereka tentang rasa cinta, keberanian, dan apakah gue pernah suka sama orang atau nggak.
Loka Hati
Penulis Jiro






