Deskripsi
Penulis: Almira Putri Kirani (VEILOFNARAA)
ISBN: Sedang Diajukan
e-ISBN : Sedang Diajukan
Kertas: Bookpaper 55 Gram
Ukuran: 13 x 19 cm / Doff
Jumlah Hal: BW 302 Halaman
PROLOG
Rumah sederhana itu masih dipenuhi suara-suara kecil yang saling bersahutan. Rumah tersebut menjadi saksi tumbuhnya tiga anak dengan dunia mereka masing-masing, sekaligus tempat Papa Lingga dan Bunda Katia menghabiskan hari-hari sederhana bersama keluarga.
Kamaro, si sulung yang kini telah duduk di bangku kelas dua SMP, menempati ujumg sofa dengan ponsel di tangannya. Tak jauh darinya, Kentharo yang masih kelas empat SD terlihat fokus merakit lego baru pemberian papanya. Sementara itu, Kalesya, si bungsu yang baru menginjak kelas satu SD, asyik memainkan bonekanya sendiri.
Bunda Katia tak terlihat sejak pagi, seperti biasa pekerjaannya selalu menyita waktu lebih lama dari yang dijanjikan. Papa Lingga bersandar santai di kursinya, memperhatikan satu per satu tanpa banyak bicara. Sampai akhirnya berhenti pada Kentharo, anak itu terlihat serius sekali dengan lego di tangannya.
Papa Lingga mendekati Kentharo, lalu duduk di sebelahnya. “Udah hampir jadi,” katanya, sambil mengamati lego yang Kentharo rakit.
Kentharo mendongak sekilas, lalu mengangguk kecil. Tangannya masih sibuk merapikan bagian atas.
Papa Lingga tersenyum tipis. Ia mengusap lembut kepala Kentharo. “Kamu ngerjain sendiri semuanya?” tanyanya.
“Iya,” jawab Kentharo, kali ini gerakannya berhenti sebentar untuk menatap ayahnya. “Tadi sempat bingung, tapi setelah baca buku panduannya lagi bisa, deh.”
Papa Lingga mengangguk pelan, ada rasa bangga yang menyelimutinya. “Bagus. Sekarang udah bisa baca buku panduannya sendiri, tanpa bantuan Papa atau Bang Kama.” Ia lalu mengangkat sedikit dagunya, menunjuk ke arah bangunan kecil itu. “Kamu tau nggak, kenapa Papa pilih yang ini waktu beli?” tanyanya sambil menatap Kentharo.
Kentharo menggeleng, ekspresinya menunjukkan kebingungan.
“Itu Tower of London,” ucap Papa Lingga.
Kentharo belum sempat merespons ketika ayah Lingga melanjutkan, “Tempat yang dulu sering Papa lewatin.”
Gerakan tangan Kentharo terhenti sepenuhnya. Ia menoleh pada ayahnya dengan ekspresi penuh penasaran. “Maksudnya, Papa pernah ke sana?” tanya Kentharo.
“Iya,” jawab balas Lingga sambil tersenyum.
***
Almira Putri Kirani (VEILOFNARAA)
Penulis






