ARCHIBALD : THE STAR, THE FIRE & THE SHADOW
Buy This Book

Deskripsi

Penulis: Deby Valentyani (DEBY DEYN) 
ISBN: Sedang Diajukan 
e-ISBN : Sedang Diajukan 

Kertas: Bookpaper 55 Gram

Ukuran: 13 x 19 cm / Doff

Jumlah Hal: BW 482 Halaman

PROLOG
 

Pukul tiga pagi, di luar badai menggila.

Maximilian Archibald memutuskan untuk tidak tidur, lagi. Mata amber itu begitu fokus menatap langit-langit, menghitung setiap detik sejak pukul sepuluh malam. Sudah lima jam terjaga, iming-iming istirahat ditolaknya, karena ia yakin itu akan membawanya pada mimpi buruk yang sama.

Eleanor dan Julius Archibald adalah orang tuanya. Dia hanya mengingat tentang mereka yang terkapar, dengan genangan darah, dan seorang pengecut dengan sepasang mata biru seperti langit musim dingin yang hanya bisa melarikan diri. Keduanya mati, sisanya adalah keheningan yang menyesakan, menemani hari-harinya tumbuh jadi dewasa.

Dia bisa tidur, dengan bantuan dua butir pil antidepresan yang selalu siap di nakas. Tapi bahkan obat itu tidak pernah berhasil menahan mimpi buruk. Jadi malam ini, Max lebih suka terjaga, membuat rencana dan berburu.

Dia bangkit dari ranjang, berjalan menuju jendela besar yang menghadap Imperix. Kota yang tidak pernah tidur, sama seperti dirinya. Di meja kerja, sebuah foto tergeletak, foto seorang wanita bermata biru yang baru saja mengacak-acak hidupnya.

Alexa Aubrielle Aria.

Max mengambil foto itu, api amber dari matanya seolah berpindah ke ujung jarinya, menyala tanpa korek. Elemen api dalam darahnya merespons amarah dengan cara yang paling destruktif.  Perlahan ia membakar mata biru dalam foto yang menatapnya, karena itu mengingatkan pada warna yang selalu membuatnya ingin menghancurkan sesuatu.

Kemudian tadi pagi, dalam pertemuan yang seharusnya efisien dan sederhana, gadis itu berani menantangnya. Berani menolak tawarannya hanya karena sebuah lukisan bernama Canis Major. Wanita itu bahkan menatap matanya tanpa gemetar ketakutan seperti yang biasa dilakukan orang lain ketika merasakan aura panas yang mengitari seorang raja api. 

Tidak ada yang pernah berani melakukan itu pada Archibald.

Alexa Aubrielle Aria adalah anomali. Cara dia menatap Max, tanpa gentar, tidak tunduk, adalah sesuatu yang belum pernah ia temui, dan penolakan itu justru membuat Max semakin tertarik. Tentu bukan pada gadis itu, Max tidak tertarik pada siapa pun. Max hanya tertarik pada permainan yang baru saja dimulai.

Gadis itu pikir dia sudah menang karena meninggalkan ruang pertemuan dengan arogansi. Dia tidak tahu bahwa keberaniannya itu justru membuatnya masuk dalam radar Max yang paling berbahaya.

Tapi ada alasan lain mengapa lukisan Canis Major begitu penting, yang sudah menghantui Max selama bertahun-tahun.

Monica menginginkan lukisan itu dengan putus asa. Monica, identitas baru yang dipilih wanita yang dulu bernama Diana. Wanita yang telah bermain kucing-tikusan dengannya terlalu lama, berganti identitas, mengubah wajah, bersembunyi di balik nama palsu. Tapi akhirnya muncul juga karena lukisan ini.

Agen rahasianya sudah mengkonfirmasi, Alexa Aubrielle Aria pernah bertemu dengan Monica. Dan sekarang gadis yang sama ini menolak menjual lukisan yang sangat diinginkan oleh Monica, seseorang yang menjadi kunci utama kematian kedua orang tuanya.

Terlalu rapat dengan semua pola, artinya terlalu tepat untuk disebut kebetulan. Max tersenyum dingin, satu mimik yang tidak pernah mencapai matanya. 

Alexa Aubrielle Aria adalah mata-mata Diana. Max meyakini itu. Anomali yang sengaja ditempatkan untuk menguji seberapa sabar dan telitinya seorang Archibald, dan Max tidak pernah membiarkan musuh lolos.

Dia akan mendapatkan lukisan itu. Tidak peduli harus menghancurkan Alexa Aubrielle Aria atau menggunakan semua kekuasaan api yang mengalir dalam darah keluarga Archibald di Prefektur Timur. Canis Major akan menjadi miliknya, Diana akan keluar dari persembunyian untuk mendapatkannya, dan akhirnya dia akan memiliki saksi yang akan membuktikan bahwa Keluarga Gale dengan elemen udara mereka adalah pembunuh orang tuanya.

Dunia dalam keseimbangan rapuh. Seratus tahun tanpa Sirius, seratus tahun pula kursi tertinggi itu kosong. Empat keluarga dengan elemen mereka masing-masing menahan diri dalam Winter War yang tersembunyi, menunggu saat Stardust ditemukan untuk memperebutkan tahta raja dari segala raja. 

Max akan menjadi Sirius. Tapi sebelum itu, dia harus menyelesaikan urusan lama.

\"Darah dibayar darah. Nyawa dibayar nyawa,\" bisiknya pada kegelapan.

Abu foto Alexa berterbangan di atas meja, terbakar sempurna oleh api yang lahir dari amarah seorang pengendali elemen. Yang tidak Max ketahui adalah betapa berbahaya permainan yang baru saja dia mulai. Dia tidak tahu bahwa gadis bermata biru yang baru saja menantangnya akan mengubah seluruh definisi kekuasaan, dendam, dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya, yaitu menghancurkan semua yang telah dia bangun.

Tapi malam itu, dalam kegelapan yang dia pilih daripada mimpi buruk, Max hanya tahu satu hal, Alexa Aubrielle Aria akan menjadi pion dalam permainannya untuk mendapatkan kebenaran.

Dan jika gadis itu harus hancur dalam prosesnya, Max akan melakukannya tanpa ragu.

Lagipula, dia sudah memperingatkan, \"Sekali lagi kita bertemu, kau akan membayar 30 menitku dengan seluruh waktu di hidupmu.\"

Max menatap kota Imperix dari jendela, merencanakan langkah selanjutnya. Permainan baru saja dimulai.

Dan Max Archibald tidak pernah kalah dalam permainan apa pun.

***

Deby Valentyani (DEBY DEYN)

Penulis