THE LEGEND OF ARTHEA : PUNISHMENT AND PENANCE
Buy This Book

Deskripsi

Penulis: Ni Kadek Adi Martini (Dekdi A) 

ISBN: Sedang Diajukan 
e-ISBN : Sedang Diajukan 

Kertas: Bookpaper 52 Gram

Ukuran: 14 x 20 cm / Doff

Jumlah Hal: BW 322 Halaman

SINOPSIS 

Arthea Theodora Calypse menatap pantulan wajahnya di cermin. Kulit putih mulus tanpa cela, dengan bola mata sejernih laut biru. Rambutnya kini terurai panjang, mengikuti irama air. Begitu lembut dan cantik sehingga beberapa ikan mendekati rambutnya.

“Aphelo, lihat ke sini!” Meski kabur, Arthea bisa melihat wajah cantiknya telah kembali. Bibir seranum buah peach dengan tahi lalat di pinggir bawah bibir. Itu benar-benar wujudnya yang asli!

“Berhenti bercermin, kita harus naik ke permukaan.” Aphelo membuang cermin itu ke arah bangkai kapal. Tubuh penyu besar miliknya kini berubah menjadi sosok laki-laki remaja dengan rambut cokelat. Gelungan ombak membuat tubuh Aphelo terlempar beberapa kali sehingga Arthea langsung menarik tangan laki-laki itu dan membawanya ke permukaan.

Napas Aphelo terengah-engah. Laki-laki itu menoleh ke arah dewinya yang masih berwujud setengah ikan. “Sebentar lagi, Dewi! Setelah Anda berubah seutuhnya, kita langsung naik ke alam atas.”

Arthea menatap langit yang kini bergemuruh hebat. Gelungan ombak menari-nari seolah mengerti kemarahan yang Arthea rasakan.

Dulu, Arthea adalah seorang dewi dari alam atas. Ia sangat cantik dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Arthea membantu Sang Pencipta untuk memberikan percikan cahaya kehidupan kepada manusia. Mereka menamainya atman; jiwa; roh; atau sebutan lain yang manusia percayai. Arthea sungguh tidak peduli, ia hanya menjalankan tugasnya, lalu bersenang-senang. Hidupnya begitu sempurna, Arthea tidak pernah menua dan hidup dengan kecantikan abadi.

Namun, kesialan datang. Hidup Arthea hancur ketika ia bertemu dengan Lucifer—iblis tak terkalahkan yang menguasai alam bawah.

Wajah menawan, sisi nakal yang menghasut setiap makhluk untuk terjerumus ke dalam neraka. Pria itu memiliki segalanya: jiwa-jiwa yang mengerang kesakitan dan api neraka yang membakar setiap jiwa yang jatuh kepadanya. Sialnya, Arthea adalah dewi yang bodoh. Ia jatuh cinta dan membuat keputusan paling fatal dalam hidupnya.

Ya, Arthea Theodora Calypse, si dewi yang sempurna itu, tiba-tiba ingin menjadi iblis!

Arthea menghancurkan stabilitas dari bumi. Ia membuat tsunami dan menghasut manusia untuk berbuat dosa. Dengan seringaian kepuasan yang ada di wajahnya, Arthea berkata bahwa ia akan tinggal di alam bawah, tempat iblis berada. Dengan kata lain, Arthea membakar dirinya ke api neraka demi memeluk Lucifer Allacard.

Namun…, setelah semua usaha yang Arthea lakukan, kekasihnya mengkhianatinya.

Lucifer menikah dengan adik dari dewa laut, melupakan Arthea yang berjuang mati-matian untuk pergi ke alam bawah.

Kini, Arthea yang telah melepaskan jiwa dewinya pun kehilangan arah serta diliputi kehancuran. Ia membuat kesalahan paling fatal dengan menghancurkan rumah tangga dewa laut untuk balas dendam. Arthea menyihir dewa itu, lalu mencampakkannya. Tsunami datang tanpa henti dan semua makhluk air kehilangan nyawa.

Di sana, Sang Pencipta marah dan menghukum Arthea selama 1.000 tahun. Jiwanya dibakar dengan api neraka—api paling panas di alam semesta. Aphelo, pelayannya, tidak mampu melakukan apa pun. Dewinya telah melakukan tujuh dosa besar—The Seven Deadly Sins: sombong, tamak, iri hati, rasa marah yang tak berujung, nafsu dengan dalih cinta yang menghacurkannya, rakus akan kekuasaan, dan rasa malas hingga mengabaikan pekerjaannya. Arthea benar-benar habis, hidupnya di ujung tanduk.

Wajah cantik milik gadis itu berubah menjadi monster dengan taring besar, tubuh putih mulus miliknya ditumbuhi duri yang menjijikkan, dan kakinya berubah menjadi ekor. Untuk memadamkan api yang membakar jiwanya, Arthea ditendang ke laut timur. Ia harus mendekam di dasar laut karena wujudnya yang mengerikan. Aphelo yang kasihan akhirnya memutuskan berubah menjadi penyu untuk mendampingi dewinya itu.

Arthea hancur. Cinta pertamanya berhasil melukai harga diri Arthea sebagai dewi yang dipuja. Namun, di balik kehancuran itu, Arthea menyimpan dendam yang sangat besar. Ia akan kembali menjadi dewi dan menghancurkan Lucifer Allacard. Bagaimanapun caranya, Arthea akan menyeret pria itu dari neraka, lalu melumat jiwanya. Lucifer Allacard harus musnah, setelah apa yang pria itu perbuat.

“Sedikit lagi!” Jantung Arthea berdebar kencang. Ekor ikannya sedikit demi sedikit berubah menjadi kaki.

Aphelo menyelam, melihat sendiri bagaimana Arthea berubah secara perlahan. “Dewi, sudah semua!” Arthea melotot, ia mengangkat kakinya, lalu berteriak saat merasakan jari-jari itu sangat nyata. Setelah penderitaan panjang, mereka akan kembali ke alam atas.

“Tunggu apa lagi? Aku sudah muak dengan laut.”

“Pejamkan mata Anda.” Aphelo meraih tangan dewinya, lalu membentuk pusaran besar. Setelah dirasa cukup, Aphelo merapalkan mantra, siap menembus langit untuk kembali ke alam atas. Namun, setelah sampai di penghujung alam tengah, tubuh Arthea jatuh. Perempuan itu tercekik, lalu kembali ke dasar laut.

Aphelo panik, ia langsung menyusul dewinya itu. “Kita coba sekali lagi!” Aphelo menarik Arthea, dan hal serupa terjadi. Tubuh Arthea terasa berat dan ia tidak bisa bernapas. Seberapa kuat dorongan yang Arthea buat, tubuhnya tidak bisa menembus dimensi alam atas.

“Apa itu tadi?” Sorot mata Arthea berubah panik. Tubuhnya terasa hancur berkeping-keping.

“Jangan bilang—” Aphelo mendekat, tapi Arthea menggeleng panik, menepis segala pikiran buruk yang berkecamuk sejak tadi.

Perempuan itu coba membuat pusaran yang lebih besar, tapi kekuatan dewinya tidak mampu berbuat apa-apa.

Seolah mengerti, Aphelo membantu Arthea. Ia meraih tangan tuannya untuk naik kembali ke alam atas. Namun, tubuh Arthea kembali jatuh tak berdaya. Tubuhnya sangat panas, bahkan dirinya tercekik, seolah kehabisan napas.

Karena tidak kuat melawan deburan ombak di tengah badai, Aphelo menyeret Arthea ke tepian. Ia memeriksa jiwa dewi yang sempat Arthea lepaskan untuk menjadi iblis. Dan benar saja, jiwa itu tidak lagi utuh. Arthea kehilangan napas dewi miliknya. Tanpa napas itu, Arthea tidak bisa tinggal di mana pun. Ia bahkan tidak bisa naik ke alam atas, tempat di mana seharusnya Arthea berada.

Dengan tubuh yang basah kuyup, mereka berdua bertatapan selama beberapa menit. “Kenapa bisa hilang?” Aphelo mengawasi Arthea dengan baik. Tidak mungkin napas itu hilang setelah 1.000 tahun.

Pikiran Arthea pun tertuju pada kejadian sepuluh tahun silam ketika ia pernah menyelamatkan anak manusia yang jatuh ke tengah laut. “Aku tidak bertemu dengan siapa pun, selain manusia itu.”

“Anak kecil yang Anda tolong?”

Arthea mengangguk. Sepuluh tahun silam, ada manusia yang tenggelam di depan matanya, sehingga Arthea tergerak memberinya embusan cahaya kehidupan. Hal itu bisa dilakukan oleh dewa-dewi dengan kekuatan luar biasa, dan napas dewi miliknya tidak mungkin terlepas begitu saja.

“Bagaimana bisa orang itu mengambilnya?” ujar Aphelo. Napas dewi yang hilang adalah kejadian yang sangat mustahil.

Gemuruh disertai petir mulai berdatangan, menandakan Arthea sangat marah. Tangannya mengepal erat, memikirkan bajingan kecil yang mengambil napas dewi miliknya. Jika itu sepuluh tahun yang lalu, bajingan itu sudah dewasa.

“Kau tenang saja, Aphelo. Bagaimanapun caranya, aku akan kembali.”

Bila perlu, Arthea akan mengobrak-abrik isi bumi dan menemukan orang itu. Pria yang mencuri napas dewi miliknya. [] 

***

Ni Kadek Adi Martini (Dekdi A)

Penulis