{"id":502,"date":"2023-08-08T08:43:46","date_gmt":"2023-08-08T08:43:46","guid":{"rendered":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/?p=502"},"modified":"2023-08-16T02:06:48","modified_gmt":"2023-08-16T02:06:48","slug":"yes-mr-husband-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/yes-mr-husband-2\/","title":{"rendered":"Yes Mr Husband 2"},"content":{"rendered":"\n\n\n\n\n\n\n\n\n<p style=\"text-align: center\"><strong><span style=\"background-color:#\"><span style=\"font-size: large\">Deskrip<span><\/span>si<\/span><\/span><br><\/strong><\/p>\n\n\n<p><strong>Penulis<\/strong>: Windi Sulistriani<br><\/p>\n<p><strong>ISBN<\/strong>: Sedang Diajukan<br><\/p>\n<p><strong>Kertas<\/strong>: Book Paper 52 Gram<\/p>\n<p><strong>Ukuran<\/strong>: 13 x 19 cm \/ Doff<\/p>\n<p><strong>Jumlah Hal<\/strong>: BW 320 Halaman<\/p><p><\/p>\n\n\n<strong>Synopsis <\/strong><br><p style=\"text-align: justify\">Laki-laki itu menutup map berisi lembaran-lembaran kertas yang membuatnya pening. Sambil memijat pangkal hidungnya, ia mematikan laptop dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Kepalanya terasa berdenyut setelah seharian bekerja. Jam baru menunjukkan pukul 20.00 WIB, tapi ia sudah sangat malas melanjutkan pekerjaan yang hari ini sengaja dibawa ke rumah. <\/p><p style=\"text-align: justify\">Arkan Dirgantara, dosen sekaligus pengusaha yang kini menginjak usia tiga puluh tujuh tahun itu mendesah panjang. Ia tidak diperbolehkan pulang lewat dari jam tiga sore oleh istri dan keluarganya. Jadi, ia harus membawa pekerjaan yang belum selesai itu ke rumah dan \u2018menikmatinya\u2019 sendirian sampai kenyang.<\/p><p style=\"text-align: justify\">Apakah kenyang karena pekerjaan termasuk nikmat Tuhan yang harus disyukuri? Seharusnya begitu, tetapi Pak Arkan sudah terlanjur lelah dan muak.<\/p><p style=\"text-align: justify\">Akhirnya, ia memilih untuk bangkit dari kursi kebesarannya, dan keluar dari ruang kerja. Ia berniat menghampiri istri dan anak-anaknya di ruang keluarga. Barangkali ketiga \u2018printilannya\u2019 itu bisa menjadi obat lelahnya hari ini. <\/p><p style=\"text-align: justify\">&#8220;Abang, Abang, ini bagus yang mana?&#8221;<\/p><p style=\"text-align: justify\">Pak Arkan langsung disambut suara cempreng Al ketika memasuki ruang keluarga. Bocah itu menyodorkan poster NCT Dream\u2014boyband dari Korea\u2014milik bundanya kepada El.<\/p><p style=\"text-align: justify\">&#8220;Bagus ini.\u201d El\u2014anak pertama Pak Arkan dan Shella\u2014menunjuk salah satu laki-laki yang ada di poster itu. &#8220;El suka sama foto Papi Jeno yang di sini.&#8221;<\/p><p style=\"text-align: justify\">Al langsung memberengut tidak suka. Ia menarik posternya dari jangkauan sang abang. &#8220;Abang jangan begitu!&#8221; omelnya dengan bibir yang dimaju-majukan.<\/p><p style=\"text-align: justify\">&#8220;Kenapa? Abang, kan, cuma jawab.&#8221; El tidak menghiraukan adiknya, dan malah melanjutkan kegiatan mewarnai buku gambarnya.<\/p><p style=\"text-align: justify\">Al melipat kedua tangannya di depan dada. &#8220;Tidak boleh memuji orang lain di depan Papi Jaemin, nanti Papi marah.&#8221;<\/p><p style=\"text-align: justify\">Si sulung menghela napas, terpaksa ia mengalihkan perhatian dari buku gambarnya. &#8220;Itu, kan, cuma foto. Papi Jaemin tidak mungkin keluar dari foto.&#8221;<\/p><p style=\"text-align: justify\">&#8220;Tidak boleh, Abang!\u201d<\/p><p style=\"text-align: justify\">&#8220;Tadi, kan, Al suruh Abang pilih. Kalo Abang sukanya sama foto Papi Jeno\u2014&#8221;<\/p><p style=\"text-align: justify\">&#8220;Tidak boleh memanggil Papi Jeno, seharusnya Om Jeno,\u201d potong El penuh penekanan sambil menunjuk foto laki-laki bernama Jeno di dalam poster itu. \u201cPapi itu cuma buat Papi Jaemin.\u201d<\/p><p style=\"text-align: justify\">Kini giliran El yang melipat kedua tangannya di depan dada. Ia menatap adiknya dengan tatapan tidak suka. &#8220;Besok-besok, Abang tidak mau lagi kalo disuruh milih sama Al.&#8221;<\/p><p style=\"text-align: justify\">&#8220;Ya sudah, besok-besok Al juga tidak mau suruh Abang El pilihin lagi!&#8221;<\/p><p style=\"text-align: justify\">&#8220;Kenapa, sih? Kenapa?\u201d Shella tiba-tiba muncul dan langsung mengambil poster yang masih dipegang oleh Al. \u201cSemua fotonya bagus, kok. Nggak boleh ribut gitu, ah. Nggak baik.&#8221; <\/p><p style=\"text-align: justify\">&#8220;Tapi itu Om Jeno, kan, Nda? Bukan Papi Jeno?&#8221; tanya Al, berusaha mencari pembelaan.<\/p><p style=\"text-align: justify\">&#8220;Mau Papi Jaemin, Papi Jeno, Papi Arkan, atau siapa aja, bebas. Banyak Papi, banyak rezeki. Betul, apa betul?&#8221; Shella menatap kedua anaknya bergantian dengan senyum lebar, sementara dua bocah itu hanya saling melempar tatapan bingung. Sepertinya perkataan bundanya sama sekali tidak sampai di otak kecil mereka. <\/p><p style=\"text-align: justify\">Gabriel Arsenio Dirgantara, atau yang akrab dengan panggilan El merupakan putra pertama Arkan Dirgantara dan Arshella Fitriyana Dirgantara yang duduk di bangku kelas 3 SD. Sedangkan adiknya, Alano Rasendriya Dirgantara, yang lebih akrab dipanggil Al, berusia enam tahun tiga bulan\u2014baru menduduki bangku Taman Kanak-kanak.<\/p><p style=\"text-align: justify\">Keributan perkara macam-macam \u2018papi\u2019 di rumah ini adalah hal biasa yang harus Pak Arkan dengarkan hampir setiap harinya. Tentu saja virus K-pop dari sang bunda sangat cepat menular kepada dua anaknya itu. Bisa dibayangkan bagaimana tentramnya hidup Pak Arkan yang harus menghadapi dua anak dengan sifat titisan istrinya itu.<\/p><p style=\"text-align: justify\">&#8220;Halo, Boy,&#8221; sapa Pak Arkan membuat kedua anaknya kompak menoleh, termasuk Shella.<\/p><p style=\"text-align: justify\">&#8220;Annyeong, Ayaaah!\u201d&nbsp; balas El dan Al bersamaan. <\/p><p style=\"text-align: justify\">Pak Arkan mendengkus tak suka. Entah sudah berapa banyak kosakata Bahasa Korea yang Shella ajarkan kepada anaknya. <\/p><p style=\"text-align: justify\">&#8220;Ayah, Ayah, tau tidak? Al sekarang punya banyak Papi, loh!\u201d<\/p><p style=\"text-align: justify\">Pak Arkan mengerutkan dahi. &#8220;Banyak Papi? Siapa lagi?&#8221; Ia sudah ikhlas ketika kedua anaknya memanggil si Jaeman dengan sebutan papi, tapi kenapa sekarang malah harus bertambah lagi? Mau dibuat serumit apa nanti silsilah keluarganya?<\/p><p style=\"text-align: justify\">&#8220;Papi Jaemin ada, Papi Jeno ada, terus Pap\u2014&#8221; <\/p><p style=\"text-align: justify\">&#8220;Tapi yang paling ganteng tetep Ayah, kan?&#8221; potong Pak Arkan sambil menaik-turunkan alisnya. Ia pun ikut duduk di karpet berbulu, bergabung dengan mereka.<\/p><p style=\"text-align: justify\">&#8220;Betul!\u201d jawab Al.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cAyah El yang paling ganteng,&#8221; sambung El sambil mengacungkan kedua jempolnya.<\/p><p style=\"text-align: justify\">Tidak dapat dipungkiri meskipun usianya sudah menginjak kepala tiga itu, Pak Arkan masih terlihat awet muda. Mungkin itu adalah berkah dari kesabarannya menghadapi tiga reog di rumah ini. <\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cJadi besok, Al dibeliin apa?&#8221; tanya Al kemudian.<\/p><p style=\"text-align: justify\">&#8220;Hah?&#8221;<\/p><p style=\"text-align: justify\">&#8220;Kan, Al baru saja memuji Ayah, berarti harus dibeliin mainan baru!\u201d \u201cIya, itu aja kok. Kita gak ada aturan yang gimana-gimana. Hmm, kalo gitu, aku tinggal dulu, ya? Kamu kalo mau liat-liat silahkan. Kalo mau liat kamar cowok juga boleh, buka aja, anaknya baik kok,\u201d ujar Metha.<\/p><p style=\"text-align: justify\">Shiloh terkekeh. \u201cIya.. Makasih, kak.\u201d<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cSama-sama&#8230;\u201d<\/p><p style=\"text-align: justify\">Shiloh menutup pintu kamarnya. Gadis itu pun mulai membuka kedua koper dan menata barang-barang di lemari.<\/p><p style=\"text-align: justify\">Tak sadar, ada kedua orang berbincang di luar.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cUdah dateng?\u201d tanya Abiel yang sepertinya baru kembali dari teras belakang. Metha mengangguk.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cCewe? Apa cowo?\u201d tanyanya lagi.<\/p><p style=\"text-align: justify\">Metha terkekeh. \u201cCewek.\u201d<\/p><p style=\"text-align: justify\">Sebuah senyuman pun merekah di bibir Abiel. \u201cMantab!\u201d<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cDih! Emang ganjen lo jadi cowok!\u201d Metha menempeleng pipi Abiel perlahan. Abiel hanya tertawa.<\/p><p style=\"text-align: justify\">Kemudian mereka berdua duduk di meja makan. Kebetulan Metha baru saja membawa makanan setelah dari tempat kerjanya. Ada tiga mangkuk rice bowl yang masih terbungkus dengan rapih di atas meja, membuat Metha teringat akan gadis penghuni baru tersebut.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cEh, iya.. El, panggilin gih&#8230;\u201d perintah Metha.<\/p><p style=\"text-align: justify\">Pemuda itu pun mengangguk dan menurutin perintah sang tetua. Ia berjalan menuju kamar yang letaknya tak jauh dari meja makan. Kemudian mengetuknya sebanyak tiga kali.<\/p><p style=\"text-align: justify\">Shiloh yang masih sibuk membenahi kamar pun mendengar ketukan tersebut.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cIya, Kak?\u201d serunya dari dalam.<\/p><p style=\"text-align: justify\">Abiel tak menggubris. Ia terus mengetuk pintu, berharap penghuninya akan keluar dari sana.<\/p><p style=\"text-align: justify\">Tok tok tok<\/p><p style=\"text-align: justify\">Shiloh akhirnya berdiri. Lalu membuka pintu kamarnya perlahan.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cYaa?\u201d<\/p><p style=\"text-align: justify\">Mata keduanya saling bertemu dan membelalak.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cLO NGAPAIN DI SINI?!?!?\u201d<\/p><p style=\"text-align: center\">***<\/p>\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n<p style=\"text-align: center\"><strong style=\"font-size: large\">Annisa Lin<\/strong><br><\/p>\n\n\n\n\n\n\n\n\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Penulis<\/strong><\/p>\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":2,"featured_media":501,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-502","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-buku-buku"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/502","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=502"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/502\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":603,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/502\/revisions\/603"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/media\/501"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=502"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=502"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=502"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}