{"id":465,"date":"2023-08-08T01:25:43","date_gmt":"2023-08-08T01:25:43","guid":{"rendered":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/?p=465"},"modified":"2023-08-16T02:15:32","modified_gmt":"2023-08-16T02:15:32","slug":"lentera-senja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/lentera-senja\/","title":{"rendered":"Lentera Senja"},"content":{"rendered":"\n\n\n\n\n\n\n\n\n<p style=\"text-align: center\"><strong><span style=\"background-color:#\"><span style=\"font-size: large\">Deskrip<span><\/span>si<\/span><\/span><br><\/strong><\/p>\n\n\n<p><strong>Penulis<\/strong>: Alfia Ramadhani<br><\/p>\n<p><strong>ISBN<\/strong>: Sedang Diajukan<br><\/p>\n<p><strong>Kertas<\/strong>: Book Paper 55 Gram<\/p>\n<p><strong>Ukuran<\/strong>: 13 x 19 cm \/ Doff<\/p>\n<p><strong>Jumlah Hal<\/strong>: BW 280 Halaman<\/p><p><\/p>\n\n\n<strong>Synopsis <\/strong><br><p style=\"text-align: justify\">Dingin seolah menusuk hingga ke tulang, membuat siapa pun yang merasakannya akan menggigil. Asap tipis dari semangkuk sup di tengah meja makan terasa sangat kontras dengan keadaan di luar. Itu juga memberi secercah harapan, karena dengan menyeruput sup itu beberapa sendok, mungkin saja bisa menghadirkan hangat di tenggorokan.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cEh, berdoa dulu, Abang,\u201d ucapan sang bunda mengurungkan niat Zayyan untuk menuangkan sup ke mangkuknya. Laki-laki itu bahkan ditertawakan oleh kedua adik kembarnya.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cZayyan sudah nggak sabar,\u201d seorang laki-laki paruh baya yang duduk di ujung meja makan pun menyahut. \u201cSupnya memang keliatan enak, sih.\u201d<\/p><p style=\"text-align: justify\">Zayyan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dan terkekeh malu. \u201cIya, Om.\u201d<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cKalau gitu Abang pimpin doa. Ini, kan, juga acara Abang,\u201d titah Athar\u2014ayah Zayyan.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cSiap, Yah.\u201d<\/p><p style=\"text-align: justify\">Malam ini, sebuah restoran di Puncak Bogor menjadi pilihan Zayyan untuk mengadakan acara syukuran makan malam atas naik pangkatnya menjadi Letnan Satu. Tak hanya keluarga inti Zayyan saja yang hadir, orang tuanya juga mengundang keluarga omnya dan keluarga sahabat ayahnya yang memang memiliki hubungan baik sejak dulu.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cNggak kerasa banget, ya, Ndan, Zayyan sama Khanza sudah besar. Padahal, rasanya baru kemarin jagain Komandan kecil Zayyan,\u201d ujar Guntur\u2014sahabat ayah Zayyan yang turut diundang malam ini.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cIya, ya, nggak kerasa banget,\u201d sahut Athar. \u201cSaya jadi ingat rencana perjodohan anak-anak kita waktu mereka masih kecil. Kayaknya waktunya sudah pas. Mau tunggu apalagi?\u201d<\/p><p style=\"text-align: justify\">Uhuk!<\/p><p style=\"text-align: justify\">Kedua orang yang menjadi topik pembicaraan itu tersedak bersamaan. Mereka adalah Arkanza Zayyan Ghaziullah El-Zein dan Khanza Nabila Razka. Zayyan adalah seorang laki-laki berusia dua puluh enam tahun yang menjabat sebagai Letnan Satu TNI AD. Di hadapannya, duduk seorang perempuan bernama Khanza yang berprofesi sebagai dokter.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cKayaknya dulu yang paling semangat kita, ya, Sya?\u201d ujar Syafiya, bundanya Zayyan, seolah tidak tahu dengan sikap canggung Zayyan dan Khanza.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cIya, tuh, bener. Lucu banget kalau diingat-ingat,\u201d timpal Raisya, ibunya Khanza, membuat para orang tua terkekeh.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cKalau saya, sih, setuju banget, Ndan. Tinggal anak-anaknya aja maunya gimana.\u201d Guntur melirik Zayyan dan Khanza, membuat keduanya saling berpandangan sekilas. Lalu, mereka berdua pun segera mengalihkan pandangan.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cKhanza? Zayyan?\u201d panggil Bunda Syafiya lagi.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cInsya Allah, saya sudah si\u2014\u201d<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cKayaknya aku belum bisa. Aku mau fokus sama karier dulu,\u201d Khanza memotong ucapan Zayyan. Hal itu membuat seisi meja makan hening sesaat dan hanya saling melempar tatapan.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cApa lagi yang mau kamu fokuskan, Za?\u201d Guntur menyahut sambil menghela napas. \u201cKamu, kan, sudah jadi dokter tetap di rumah sakit impianmu. Ayah rasa, ini memang sudah waktunya kamu menikah.\u201d<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cAyahmu benar, Nak,\u201d Raisya setuju.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cTapi, Yah, Bu\u2026.\u201d ucapan Khanza terpotong oleh suara dehaman dari&nbsp; meletakkan peralatan makannya dan menatap orang tuanya satu per satu. <\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cSepertinya lebih baik kita bahas lagi nanti.\u201d Melihat kondisi yang kurang nyaman, Ayah Athar memilih mengakhiri pembahasan ini.&nbsp; \u201cSekarang makan-makan dulu aja.\u201d<\/p><p style=\"text-align: justify\">Ayah Athar sendiri merasa tidak enak karena membuat hubungan orang tua dan anak memburuk. Ia pun sengaja mencairkan suasana dengan mencari topik pembicaraan lain. Untungnya setelah itu, mereka bisa melanjutkan makan malam tanpa canggung.<\/p><p style=\"text-align: justify\">Sementara itu, Zayyan diam saja di kursinya. Sesekali, matanya melirik Khanza di seberang sana. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Khanza. Ia tahu Khanza sejak kecil, pasti ada alasan lain kenapa gadis itu menolak untuk segera dilamar.<\/p><p style=\"text-align: justify\">Perasaan mengganjal itu terus menghantui Zayyan sampai acara makan malam selesai. Akhirnya, Zayyan meminta izin kepada para orang tua untuk mengajak Khanza berbicara di luar. Kedua adik kembar Zayyan juga mengikuti, tapi mereka memilih untuk tidak mendekat dan hanya mengawasi dari jauh.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cZa,\u201d panggil Zayyan ketika jarak mereka cukup jauh dari adik-adiknya. \u201cKamu yakin dengan ucapanmu tadi? Ingin fokus pada karier?\u201d<\/p><p style=\"text-align: justify\">Khanza terdiam.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cAku kenal kamu, Za. Alasan kamu tadi\u2026 cukup nggak masuk akal buatku,\u201d lanjut Zayyan. <\/p><p style=\"text-align: justify\">Ia sudah mengenal Khanza dari kecil. Gadis itu memang pintar dan rajin, tapi bukan tipe yang ambisius. Ia selalu mengutamakan keluarganya dibanding dirinya sendiri. Makanya, Zayyan merasa janggal dengan ucapan Khanza tadi.<\/p><p style=\"text-align: justify\">Khanza menarik napas panjang. \u201cAku nggak mau ini semakin panjang. Jadi aku katakan yang sebenarnya sama kamu sekarang.\u201d<\/p><p style=\"text-align: justify\">Zayyan menegakkan tubuhnya dan menatap Khanza lekat-lekat.<\/p><p style=\"text-align: justify\">\u201cSebelumnya, aku minta maaf kalau kejujuranku ini membuat kamu nggak nyaman.\u201d Khanza menghela napas. \u201cSebenarnya, sekarang aku sedang menyukai seseorang. Jadi aku nggak bisa mewujudkan rencana perjodohan seperti yang orang tua kita mau.\u201d<\/p><p style=\"text-align: justify\">Zayyan terdiam sesaat. Dadanya berdebar keras karena ucapan Khanza itu. \u201cSia\u2014&#8221;<\/p>\u201cDan laki-laki itu Zidan,\u201d potong Khanza to the point.<br>\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n<p style=\"text-align: center\"><strong style=\"font-size: large\">Alfia Ramadhani<\/strong><br><\/p>\n\n\n\n\n\n\n\n\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Penulis<\/strong><\/p>\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":2,"featured_media":466,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-465","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-buku-buku"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/465","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=465"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/465\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":609,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/465\/revisions\/609"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/media\/466"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=465"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=465"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=465"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}