{"id":1267,"date":"2025-11-20T03:34:18","date_gmt":"2025-11-20T03:34:18","guid":{"rendered":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/?p=1267"},"modified":"2025-11-20T03:34:18","modified_gmt":"2025-11-20T03:34:18","slug":"mystery-theater-softcover","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/mystery-theater-softcover\/","title":{"rendered":"MYSTERY THEATER &#8211; SOFTCOVER"},"content":{"rendered":"\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n<p><strong><span style=\"background-color:#\"><span style=\"font-size: large\">Deskripsi<\/span><\/span><br><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penulis<\/strong>: Tarisa Ika Azahrani (Tarisa)&nbsp;<br><strong>ISBN: <\/strong>Sedang diajukan<br><strong>e-ISBN<\/strong>: Sedang diajukan<\/p>\n<p><strong>Kertas<\/strong>: Bookpaper 52 Gram<\/p>\n<p><strong>Ukuran<\/strong>: 13 x 19 cm \/ Doff<\/p>\n<p><strong>Jumlah Hal<\/strong>: BW 282 Halaman<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align: justify\"><strong><span style=\"line-height: 1;font-size: large\">PROLOG&nbsp;<\/span><br><\/strong><\/p><span id=\"docs-internal-guid-d066ea53-7fff-393f-75aa-aeae36ea7d4a\"><span id=\"docs-internal-guid-f43007fc-7fff-0b53-16c5-488f7b0b189d\"><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.38;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size:12pt;color:#000000;background-color:transparent;font-weight:400;font-style:normal;font-variant:normal;text-decoration:none;vertical-align:baseline\">\u201cDasar bodoh! Ini bukan dialogmu!\u201d&nbsp;<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.38;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size:12pt;color:#000000;background-color:transparent;font-weight:400;font-style:normal;font-variant:normal;text-decoration:none;vertical-align:baseline\">Bentakan yang menggelegar di penjuru gedung teater itu berasal dari pria yang duduk di kursi penonton dengan kedua tangan yang terlipat angkuh di depan dada. Netranya menatap tajam salah satu dari sepuluh anak yang berdiri di atas panggung. Perempuan itu menunduk dalam, batinnya mengumpati dirinya sendiri yang tanpa sengaja salah mengucapkan dialog. Ia tahu, di tempat ini, jika melakukan kesalahan sekecil apa pun akan mengundang malapetaka.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.38;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size:12pt;color:#000000;background-color:transparent;font-weight:400;font-style:normal;font-variant:normal;text-decoration:none;vertical-align:baseline\">\u201cBaca ulang dengan suara lantang!\u201d<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.38;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size:12pt;color:#000000;background-color:transparent;font-weight:400;font-style:normal;font-variant:normal;text-decoration:none;vertical-align:baseline\">Perintah itu dituruti meski dengan suara yang sedikit bergetar karena tak mampu menahan rasa takutnya terhadap sang Pelatih. Kepala perempuan itu masih tertunduk membuat wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.38;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size:12pt;color:#000000;background-color:transparent;font-weight:400;font-style:normal;font-variant:normal;text-decoration:none;vertical-align:baseline\">Habis kesabaran, pria itu bangkit dari duduknya dan menghampiri perempuan itu dengan langkah lebar. \u201cJangan tundukan kepalamu!\u201d<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.38;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size:12pt;color:#000000;background-color:transparent;font-weight:400;font-style:normal;font-variant:normal;text-decoration:none;vertical-align:baseline\">Ringisan&nbsp; pelan terdengar ketika tangan sang Pelatih mencengkram kuat dagunya, memaksa Selina untuk mengangkat kepalanya dan menatapnya. \u201cIngat, kamu memerankan seorang peri yang ceria. Kalau kamu engan tersenyum pada penonton, akanku robek bibirmu.\u201d<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.38;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size:12pt;color:#000000;background-color:transparent;font-weight:400;font-style:normal;font-variant:normal;text-decoration:none;vertical-align:baseline\">Rupanya sulit sekali menemukan kebahagiaan di tempat ini, sampai-sampai senyuman di atas panggung yang selalu disungguhkan untuk penonton itu palsu.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.38;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size:12pt;color:#000000;background-color:transparent;font-weight:400;font-style:normal;font-variant:normal;text-decoration:none;vertical-align:baseline\">\u201cPak Satya.\u201d Panggilan yang berasal dari laki-laki yang berdiri di sebelah Selina itu berhasil mengalihkan perhatian sang pelatih. \u201cSkenarionya sudah saya perbaiki sesuai permintaan bapak kemarin.\u201d Satya menghempaskan cengkramannya dan beralih merampas kertas kusut dari tangan Sakalingga<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.38;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size:12pt;color:#000000;background-color:transparent;font-weight:400;font-style:normal;font-variant:normal;text-decoration:none;vertical-align:baseline\">Saat Satya fokus membaca skenario, diam-diam Sakalingga merogoh saku celananya untuk mengeluarkan sepotong keras kecil, tiket teater. Ia menyodorkan tiket itu pada Selina yang menatapnya bingung.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.38;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size:12pt;color:#000000;background-color:transparent;font-weight:400;font-style:normal;font-variant:normal;text-decoration:none;vertical-align:baseline\">\u201cBerikan pada Ayahmu. Suruh beliau datang untuk menyaksikan pertunjukan putrinya.\u201d<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.38;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size:12pt;color:#000000;background-color:transparent;font-weight:400;font-style:normal;font-variant:normal;text-decoration:none;vertical-align:baseline\">Bisikan Sakalingga tepat di samping telinganya itu mengukir senyuman tipis di bibir Selina. Dengan senang hati ia menerima pemberian tiket itu.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.38;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size:12pt;color:#000000;background-color:transparent;font-weight:400;font-style:normal;font-variant:normal;text-decoration:none;vertical-align:baseline\">Alis Satya bertaut ketika sampai di dialog terakhir yang ditulis oleh Sakalingga untuk menutup lakon. \u201cAndai suatu hari kalian kembali menemukan kami, tolong tunjukkan jalan keluar dari neraka yang tak henti menyiksa jiwa ini.\u201d<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.38;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size:12pt;color:#000000;background-color:transparent;font-weight:400;font-style:normal;font-variant:normal;text-decoration:none;vertical-align:baseline\">Pandangan Satya terangkat. Pisau kalah tajam dengan tatapan Satya yang tertuju pada sang penulis skenario. Amarahnya kembali memuncak. \u201cApa maksud dari dialog itu? Meminta bantuan dari penonton untuk bebas dari tempat ini?!\u201d<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.38;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size:12pt;color:#000000;background-color:transparent;font-weight:400;font-style:normal;font-variant:normal;text-decoration:none;vertical-align:baseline\">Entah mendapat keberanian dari mana, Sakalingga mengangguk tanpa ragu. \u201cSiapa yang betah di tempat keji seperti ini?\u201d<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.38;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size:12pt;color:#000000;background-color:transparent;font-weight:400;font-style:normal;font-variant:normal;text-decoration:none;vertical-align:baseline\">Detik itu juga, punggung Sakalingga menghantam keras dinding kayu panggung akibat dorongan dari Satya. Tangan kekar pria itu dengan enteng melayangkan pukulan bertubi-tubi di wajah tampan Sakalingga.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.38;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size:12pt;color:#000000;background-color:transparent;font-weight:400;font-style:normal;font-variant:normal;text-decoration:none;vertical-align:baseline\">\u201cKeluar dari tempat ini adalah mimpi indah kalian.\u201d<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.38;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size:12pt;color:#000000;background-color:transparent;font-weight:400;font-style:normal;font-variant:normal;text-decoration:none;vertical-align:baseline\">Jika seseorang terperosok ke dalam jurang gelap, naluri pertamanya adalah berteriak meminta tolong. Sakalingga pun melakukan hal yang sama. Ia berteriak bukan dengan suara, melainkan lewat kata-kata yang ia samarkan di setiap skenario. Ia ingin membebaskan teman-temannya dari penderitaan yang tak berujung. Sayangnya, tak seorang pun peka. Penonton sibuk menikmati pertunjukan tanpa tahu bahwa para jiwa yang menari di atas panggung sana tengah sekarat dan meminta diselamatkan.\n\n<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.38;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size:12pt;color:#000000;background-color:transparent;font-weight:400;font-style:normal;font-variant:normal;text-decoration:none;vertical-align:baseline\">Di tempat ini, mimpi-mimpi yang berhamburan beradu dengan kerasnya keadaan. Lengkung bibir indah yang tercipta di wajah mereka lahir dari ancaman, bukan kebahagiaan. Langkah-langkah letih itu terus dipaksa bergerak, meski jiwanya hampir rusak. Di bawah kendali orang-orang rakus, nyawa mereka dipertaruhkan demi mata uang.&nbsp;<\/span><\/p><\/span><\/span><span style=\"font-size:medium\"><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:10pt\"><span id=\"docs-internal-guid-869092be-7fff-66c5-8bba-d72a04408eea\"><\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: center;margin-top:12pt;margin-bottom:12pt\"><span style=\"font-size:12pt;color:#000000;background-color:transparent;font-weight:400;font-style:normal;font-variant:normal;text-decoration:none;vertical-align:baseline\">***<\/span><\/p><\/span>\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n<p>Tarisa Ika Azahrani (Tarisa)\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n<p>Penulis<br><\/p>\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":2,"featured_media":1268,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1267","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-buku-buku"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1267","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1267"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1267\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1270,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1267\/revisions\/1270"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1268"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1267"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1267"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1267"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}