{"id":1229,"date":"2025-10-02T02:51:20","date_gmt":"2025-10-02T02:51:20","guid":{"rendered":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/?p=1229"},"modified":"2025-10-02T02:51:20","modified_gmt":"2025-10-02T02:51:20","slug":"02-00","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/02-00\/","title":{"rendered":"02.00"},"content":{"rendered":"\n\n\n\n\n\n\n\n\n<p><strong><span style=\"background-color:#\"><span style=\"font-size: large\">Deskripsi<\/span><\/span><br><\/strong><\/p>\n\n<p><strong>Penulis<\/strong>: Anugrah Ameylia Falensia (Ameylia Falensia)<br><strong>ISBN: <\/strong>Sedang diajukan<br><strong>e-ISBN<\/strong>: Sedang diajukan<\/p>\n<p><strong>Kertas<\/strong>: Bookpaper 52 Gram<\/p>\n<p><strong>Ukuran<\/strong>: 13 x 19 cm \/ Doff<\/p>\n<p><strong>Jumlah Hal<\/strong>: BW 322 Halaman<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong><span style=\"line-height: 1;font-size: large\">PROLOG<br>&nbsp;<\/span><br><\/strong><\/p><span id=\"docs-internal-guid-d066ea53-7fff-393f-75aa-aeae36ea7d4a\"><span id=\"docs-internal-guid-ba5b5c82-7fff-5b53-d947-9d0a20da2d2b\"><span id=\"docs-internal-guid-a7e570c1-7fff-f096-5bdf-2a4934ba92c4\"><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;font-weight: 700;vertical-align: baseline\">\u201c00.00\u201d<\/span><\/p><br><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">\u201cMau lo apa, sih, Zel? Selama sembilan tahun ini, lo masih berharap jadi pemeran utama yang harus selalu dimengerti semua kemauannya? Harus selalu diikuti setiap perkataannya?\u201d&nbsp;&nbsp;<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">Perempuan itu tertawa geli mendengar pertanyaan sekaligus pernyataan yang keluar dari mulut lelaki yang ia cintai selama sembilan tahun. Setelah menunggu berjam-jam, ternyata kalimat itu yang pertama kali harus ia dengar.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">\u201cLo manusia paling egois yang pernah gue temui!\u201d lanjut lelaki itu.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">\u201cEgois apa, sih\u2014\u201d Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tangan lelaki itu\u2014Deo\u2014lebih dulu mencengkeram dan menarik lengannya secara paksa agar masuk ke dalam mobil.&nbsp;<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">Di dalam mobil, tak ada sepatah kata yang keluar dari perempuan itu ataupun Deo. Keduanya sama-sama diam, hanya ada keheningan yang terasa menyesakkan. Sampai akhirnya setelah beberapa menit berlalu, Deo kembali memulai percakapan.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">\u201cLo ngapain nyamperin Prima dan ngomong ke dia buat jauhin gue? Lo pikir itu nggak egois?! Gara-gara omongan tai lo itu, Prima sampai masuk rumah sakit!\u201d Suara Deo meninggi, tajam menusuk ruang sempit dalam mobil.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">Hazel terdiam.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">Bagi Deo, Prima memang selalu lebih pantas. Mantan sekaligus sahabat lama yang sikapnya selalu tenang, dewasa, dan tidak pernah membuat masalah. Di mata Deo, semua kebaikan Prima menutupi setiap kemungkinan kesalahan yang dilakukan perempuan itu. Sementara Hazel\u2014dengan emosi dan mulutnya yang meledak-ledak\u2014selalu tampak seperti sumber kekacauan.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">\u201cMaksud lo apa datengin dia? Lo pikir, Prima ngerebut gue dari lo? Dia bahkan nggak ngelakuin apa-apa, Zel! Dia diem aja, dan lo datang bawa-bawa cerita kita ke dia?\u201d<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">Hazel mengatupkan rahangnya rapat-rapat, ia mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu. Ia sudah tahu akan begini. Sudah terlalu sering diposisikan sebagai penyusup. Terlalu sering dibandingkan dengan Prima yang lebih mengerti dan tidak penuh dengan drama.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">\u201cLo kenapa masih terus-terusan gangguin hidup Prima?\u201d<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">Pertanyaan itu sukses membuat mata Hazel melebar. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela, mencoba meredam perasaannya yang mulai mendidih.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">\u201cLo egois, Zel! Lo cuma mikirin perasaan lo sendiri. Lo sama sekali nggak peduli sama perasaan gue dan Prima!\u201d<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">Hazel mencengkeram ujung bajunya. Dengan sekuat tenaga, ia menahan tangis yang mendesak keluar.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">\u201cHarusnya lo mikir, selama ini lo udah jahat ke orang sebaik Prima. Gue ngerasa udah nggak kenal sama lo lagi, tau?\u201d<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">Hazel ingin tertawa\u2014pahit. Ia merasa seperti tokoh antagonis dalam cerita cinta orang lain. Di mata semua orang, ia terlalu reaktif, terlalu meledak-ledak, terlalu ingin menguasai Deo.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">\u201cGue tadi ke rumah sakit. Prima bilang lo dateng ke tempat dia, nyerocos soal hubungan kita, bikin dia kepikiran sampe akhirnya kecelakaan.\u201d<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">Hazel tertawa getir. Pantas saja ia menunggu kedatangan Deo selama tiga jam sendirian, ternyata laki-laki itu habis menjenguk (mantan) kekasih hatinya. Tiga jam ia duduk menunggu, berharap jadi tujuan utama. Namun, kenyataannya, ia hanya jadi jeda di antara kepedulian Deo pada orang lain.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">\u201cKeren banget lo. Datengin dia, ngomongin kita, seolah-olah lo paling ngerti segalanya!\u201d Deo kembali berujar dengan ekspresi muak. Tak lupa ia juga memberi penekanan pada tiap kata yang keluar dari mulutnya.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">\u201cSok deket lo sama gue. Sok tau lo tentang gue.\u201d Nada pelan tapi sangat menusuk itu membuat Hazel mencelos.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">\u201cGue nggak pernah nganggep lo lebih dari sekadar pelarian, Zel\u2014\u201d<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">Suara tamparan menggema di dalam mobil. Mata perempuan itu memerah, menahan tangis dan amarah dalam dirinya. Ucapan itu bukan hanya menyakitkan, tapi berhasil membungkam semua alasan kenapa ia tetap bertahan selama ini.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">\u201cAKU PACAR KAMU!\u201d Hazel berteriak. Suaranya bergetar, nyaris patah di ujung kalimat. Rasa panas menjalar ke tangan yang tadi menampar Deo, sementara tangan satunya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">\u201cGila kamu bisa ngomong kayak gitu!\u201d Tangan Hazel terangkat, telunjuknya gemetar menunjuk tepat ke wajah Deo, bukan untuk mengancam, tapi menegaskan luka yang sudah terlalu lama ia pendam.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">Deo akhirnya terdiam setelah semua kata tajam, menyakitkan, dan nyaris tanpa jeda keluar dari mulutnya. Bukan karena takut, tapi untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat betapa hancurnya perempuan di hadapannya&#8230; dan sadar, ialah penyebabnya.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">Telunjuk yang semula hanya mengarah ke wajahnya, kini berubah menjadi dorongan di dada Deo\u2014berulang kali, penuh emosi. Setiap dorongan bukan sekadar kemarahan, tapi penegasan. Seolah Hazel ingin menanamkan di dalam diri lelaki itu betapa dalam luka yang ia bawa, dan betapa kalimat-kalimat yang tadi terlontar tak bisa ditarik kembali.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">\u201cSembilan tahun, Deo!\u201d Dadanya sesak. Semua luka yang selama ini ia telan, pecah dalam satu tarikan napas. Air mata akhirnya jatuh, membasahi wajah yang sejak tadi menahan marah.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">Hazel menatap Deo\u2014pandangan yang penuh kecewa, marah, dan patah di waktu bersamaan. Kali ini suaranya lebih pelan, tapi justru lebih menyakitkan dari teriakan sebelumnya.<\/span><\/p><p dir=\"ltr\" style=\"line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt\"><span style=\"font-size: 12pt;, serif;vertical-align: baseline\">\u201cSembilan tahun kamu nunggu dia, dan sembilan tahun juga aku nunggu kamu di sini.\u201d<\/span><\/p><\/span><p dir=\"ltr\" style=\"line-height: 1.38;margin-top: 0pt;margin-bottom: 0pt;text-align: center\">***<br><br><\/p><\/span><\/span>\n\n\n\n\n\n\n\n\n<span style=\"font-size: 16px\">Anugrah Ameylia Falensia (Ameylia Falensia)&nbsp;&nbsp;<\/span>\n\n\n\n\n\n\n\n<p>Penulis<br><\/p>\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":2,"featured_media":1230,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1229","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-buku-buku"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1229","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1229"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1229\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1233,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1229\/revisions\/1233"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1230"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1229"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1229"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ptsembilancahayaabadi.com\/catalogue\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1229"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}