Deskripsi
Penulis: Adisia Citra Nur Ayu (DISADISSO)
ISBN: Sedang diajukan
e-ISBN: Sedang diajukan
Kertas: Bookpaper 52 Gram
Ukuran: 13 x 19 cm / Doff
Jumlah Hal: BW 302 Halaman
PROLOG
Jakarta, 31 Desember 2022
ANKAA
IBU
Bu
Ankaa nemuin telfon di Gudang
Masih lumayan bagus sih Bu
Mau Ankaa bawa ke rumah baru?
Atau Ankaa biarin aja?
Aku menutup gagang telepon genggam setelah menunggu lima menit tanpa mendapat jawaban. Hampa. Seharusnya ada balasan, tapi tak ada. Kemudian, pandanganku beralih, meratapi sebuah telepon rumah yang berada di sisi kanan nakas. Telepon itu kutemukan selagi membereskan gudang siang tadi. Warnanya merah tua, kusam oleh waktu, dan karat terlihat jelas di bagian gagangnya. Tampaknya sudah sangat lama dan usang, usianya bahkan jauh lebih tua dari usiaku. Mungkinkah ini peninggalan zaman kolonial atau artefak sejarah yang perlu dilindungi keantikannya? Sungguh, pikiranku terlalu jauh saat itu. Namun, naluri mengatakan aku harus memeriksa benda itu dengan baik; mungkin saja harganya mahal bila dijual, atau mungkin masih berfungsi dengan baik meskipun penampilannya cukup tidak meyakinkan.
Menelusuri niat, aku berusaha mencari cara bagaimana menyalakan benda tersebut. Namun, tak kutemukan sebuah kabel colokan yang digunakan untuk menghubungkan ke listrik. Aku terdiam sejenak dalam simpuh, kebingungan merayapi benakku. Bagaimana cara orang dahulu menggunakan telepon tua ini? Raut wajahku meneliti, kuangkat gagang telepon lalu menempelkannya tepat ke telinga, layaknya sedang mengangkat telepon dari seseorang. Tiba-tiba, beberapa percikan kilauan muncul begitu saja pada netra hitamku. Kilatan itu, secepat kilat, membuatku sedikit terkejut dan spontan kulempar gagang telepon itu menjauh. Rasa terkejut bercampur bingung. Tanda tanya lainnya lebih berkecamuk di kepalaku, seolah tiap lapisan di dalam kepalaku bersorak mempertanyakan hal yang sama, sehingga rasanya seperti bising sekali. Namun, tak sama seperti isi kepalaku, bibirku seolah membeku. Tak ada sepatah kata pun, bahkan sumpah serapah yang terlontar untuk mengintuisikan betapa terkejut aku kala itu. Seluruh indraku seolah berhenti bekerja, terpaku pada kejadian aneh barusan.
Beberapa saat ruangan itu terasa begitu senyap. Langit menjadi gelap dan hujan turun setelahnya, membasahi bumi dengan rintik-rintik yang melankolis. Sesekali suara angin terdengar mengembus dari balik jendela yang sengaja kubuka agar aku masih bisa menghirup udara segar dari luar, tadinya. Namun kini, suara embusan itu justru terasa lebih menyeramkan. Dengan perasaan bimbang sekaligus takut, aku mengemas kembali telepon tua itu dan sedikit menyingkirkannya dari pandangan, mencoba melupakan kejadian aneh barusan. Kemudian, aku beranjak menutup jendela kamarku yang tampak lebih terdengar menyeramkan dengan angin yang cukup kasar mengempas kaca. Aku tak tahu mengapa perasaanku begitu bercampur, seolah aku sendiri tidak dapat mengartikan jenis perasaan apa yang sedang kurasakan. Setelah aku menutup jendela tersebut, dengan tarikan napas dan hembusan yang aku lakukan setelahnya, aku berusaha melupakan kejadian barusan tanpa niat menelusuri lebih dalam apa yang sebetulnya terjadi. Aku mengalihkan kegiatan dan kembali fokus pada tujuanku hari ini. Kemudian, aku pergi mengemasi barang-barang milikku yang lain, hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Aku bahkan tidak lagi ingat apa yang terjadi siang hari tadi.
Kamarku kini nyaris kosong, hanya tersisa sebuah ranjang lipat, lemari, dan beberapa tumpukan kardus, yang belum sempat mendapat giliran untuk dipindahkan ke rumah baru. Kelelahan akibat aktivitas seharian mulai menyerang. Dengan tubuhku yang berkeringat dan napas yang sedikit tersengal-sengal, aku pergi ke kamar lalu merebahkan tubuh di atas ranjang. Aku sempat memejamkan mata sejenak, berharap bisa segera terlelap, lalu beberapa saat membukanya kembali. Namun, kantuk tak kunjung datang. Kemudian aku termenung dengan sorot mata yang kosong menatap pendingin udara di kamar yang bergerak naik turun mengeluarkan angin dari baliknya, pikiranku masih dipenuhi kekacauan.
Kring~
Hingga tiba-tiba, suara dering telepon terdengar nyaring menusuk indra pendengaranku. Suara itu begitu dekat, mengagetkanku hingga melonjak. Lantas, lagi-lagi aku terkejut dibuatnya. Aku sontak terduduk dan menaruh pandang bingung, mencari sumber suara yang tak asing, namun terasa mustahil. Sampai bunyi dering kedua kembali terdengar.
Kring~
Suatu hari kulalui ruang waktu dan kutemukan dirimu...
***
Adisia Citra Nur Ayu (DISADISSO)
Penulis






