Deskripsi
Penulis: Andi Asni (FAIRYPATETIC)
ISBN: Sedang diajukan
e-ISBN: Sedang diajukan
Kertas: Bookpaper 52 Gram
Ukuran: 13 x 19 cm / Doff
Jumlah Hal: BW 402 Halaman
PROLOG
“Apa-apaan tingkah kamu tadi?” tanya Hilario dengan tatapan tajam menghujami Matcha. “Ngapain pakai baju terbuka kayak gini?” Hilario menunjuk kancing atas kemeja Matcha yang terbuka bebas.
Matcha yang menyilangkan tangan di dada hanya memalingkan wajah dan tersenyum penuh arti. “Kenapa? Nggak suka?”
Hilario mendesis kasar dengan nada rendah. “Di tempat ini, anggap kita bukan siapa-siapa. Jangan banyak tingkah.”
“Banyak tingkah gimana? Aku cuma bersikap sewajarnya.”
“Sewajarnya gimana?!” bentak Hilar tiba-tiba. “Seolah-olah kamu seorang wanita nggak bersuami?”
Matcha mengerutkan kening, lalu bertolak pinggang penuh keheranan. “Kok tahu kalau aku udah punya suami dan bukan gadis lagi?” Wanita itu menyandarkan tubuh di tembok cokelat gudang dapur. “Oh iya, Hilario Jarvis Zachary, kan, suami aku.” Ia menepuk jidat dan pura-pura baru mengingat fakta mengerikan tersebut. “Dua bulan hidup di asrama bikin aku lupa status,” lanjut Matcha lagi yang semakin mengundang decakan kesal dari Hilario.
“Buruan pasang kancing kemeja kamu.”
“Kak Hilar nggak mau bantu ngancingin gitu?” Matcha terkekeh mencemooh.
Tanpa bicara lagi, Hilario bergerak cepat memasang kancing kemeja Matcha hingga tank top hitam perempuan itu tak lagi terlihat.
Matcha tentu saja tersenyum puas, dagunya terangkat penuh rasa pongah, lalu ia menepuk pelan bahu Hilario dengan gerakan seolah-olah menghempas debu. “Makasih, Hilario. Teman sekelas mana, sih, yang peduliin aku sedetail ini? Yang lain malah suka kalau aku berpenampilan terbuka.”
“Nggak usah ngaco. Besok kita ke Randupala. Aku kangen Yaya.”
“Kalau aku, apa kamu nggak kangen, hm?” Kedua alis Matcha bergerak naik. “Nggak? Oh, oke. Nggak apa-apa. Jangankan minta dikangenin, dikabarin aja aku nggak berhak, kan? Toh, apa, sih, pentingnya istri siri dalam hidup Hilario? Putra bungsu Direktur utama Pakubandanu Group bisa dapatin yang lebih dari seorang cewek miskin. Yang nggak suka morotin duit kamu, yang nggak jadi beban doang dalam hidup kamu, dan pastinya... bisa kamu pamerin ke orang-orang tanpa malu.”
***
Penulis






