MYSTERY THEATER – SOFTCOVER
Buy This Book

Deskripsi

Penulis: Tarisa Ika Azahrani (Tarisa) 
ISBN: Sedang diajukan
e-ISBN: Sedang diajukan

Kertas: Bookpaper 52 Gram

Ukuran: 13 x 19 cm / Doff

Jumlah Hal: BW 282 Halaman

PROLOG 

“Dasar bodoh! Ini bukan dialogmu!” 

Bentakan yang menggelegar di penjuru gedung teater itu berasal dari pria yang duduk di kursi penonton dengan kedua tangan yang terlipat angkuh di depan dada. Netranya menatap tajam salah satu dari sepuluh anak yang berdiri di atas panggung. Perempuan itu menunduk dalam, batinnya mengumpati dirinya sendiri yang tanpa sengaja salah mengucapkan dialog. Ia tahu, di tempat ini, jika melakukan kesalahan sekecil apa pun akan mengundang malapetaka.

“Baca ulang dengan suara lantang!”

Perintah itu dituruti meski dengan suara yang sedikit bergetar karena tak mampu menahan rasa takutnya terhadap sang Pelatih. Kepala perempuan itu masih tertunduk membuat wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya.

Habis kesabaran, pria itu bangkit dari duduknya dan menghampiri perempuan itu dengan langkah lebar. “Jangan tundukan kepalamu!”

Ringisan  pelan terdengar ketika tangan sang Pelatih mencengkram kuat dagunya, memaksa Selina untuk mengangkat kepalanya dan menatapnya. “Ingat, kamu memerankan seorang peri yang ceria. Kalau kamu engan tersenyum pada penonton, akanku robek bibirmu.”

Rupanya sulit sekali menemukan kebahagiaan di tempat ini, sampai-sampai senyuman di atas panggung yang selalu disungguhkan untuk penonton itu palsu.

“Pak Satya.” Panggilan yang berasal dari laki-laki yang berdiri di sebelah Selina itu berhasil mengalihkan perhatian sang pelatih. “Skenarionya sudah saya perbaiki sesuai permintaan bapak kemarin.” Satya menghempaskan cengkramannya dan beralih merampas kertas kusut dari tangan Sakalingga

Saat Satya fokus membaca skenario, diam-diam Sakalingga merogoh saku celananya untuk mengeluarkan sepotong keras kecil, tiket teater. Ia menyodorkan tiket itu pada Selina yang menatapnya bingung.

“Berikan pada Ayahmu. Suruh beliau datang untuk menyaksikan pertunjukan putrinya.”

Bisikan Sakalingga tepat di samping telinganya itu mengukir senyuman tipis di bibir Selina. Dengan senang hati ia menerima pemberian tiket itu.

Alis Satya bertaut ketika sampai di dialog terakhir yang ditulis oleh Sakalingga untuk menutup lakon. “Andai suatu hari kalian kembali menemukan kami, tolong tunjukkan jalan keluar dari neraka yang tak henti menyiksa jiwa ini.”

Pandangan Satya terangkat. Pisau kalah tajam dengan tatapan Satya yang tertuju pada sang penulis skenario. Amarahnya kembali memuncak. “Apa maksud dari dialog itu? Meminta bantuan dari penonton untuk bebas dari tempat ini?!”

Entah mendapat keberanian dari mana, Sakalingga mengangguk tanpa ragu. “Siapa yang betah di tempat keji seperti ini?”

Detik itu juga, punggung Sakalingga menghantam keras dinding kayu panggung akibat dorongan dari Satya. Tangan kekar pria itu dengan enteng melayangkan pukulan bertubi-tubi di wajah tampan Sakalingga.

“Keluar dari tempat ini adalah mimpi indah kalian.”

Jika seseorang terperosok ke dalam jurang gelap, naluri pertamanya adalah berteriak meminta tolong. Sakalingga pun melakukan hal yang sama. Ia berteriak bukan dengan suara, melainkan lewat kata-kata yang ia samarkan di setiap skenario. Ia ingin membebaskan teman-temannya dari penderitaan yang tak berujung. Sayangnya, tak seorang pun peka. Penonton sibuk menikmati pertunjukan tanpa tahu bahwa para jiwa yang menari di atas panggung sana tengah sekarat dan meminta diselamatkan.

Di tempat ini, mimpi-mimpi yang berhamburan beradu dengan kerasnya keadaan. Lengkung bibir indah yang tercipta di wajah mereka lahir dari ancaman, bukan kebahagiaan. Langkah-langkah letih itu terus dipaksa bergerak, meski jiwanya hampir rusak. Di bawah kendali orang-orang rakus, nyawa mereka dipertaruhkan demi mata uang. 

***

Tarisa Ika Azahrani (Tarisa)  

Penulis