Loreng & Putih
Buy This Book

Deskripsi

Penulis: Kak Nana (@GARINGKRIUKKRESS23)
ISBN: Sedang diajukan

Kertas: Bookpaper 52 Gram

Ukuran: 13 x 19 cm / Doff

Jumlah Hal: BW 282 Halaman

PROLOG 

"Ini berbahaya, Mas," ucap Raya dengan tatapan khawatirnya.

"Saya tau."

"Terus kenapa Mas Gibran masih mau melanjutkannya?" tanya Raya tak habis pikir.

Gibran hanya menatap Raya dengan tatapan datarnya tanpa menjawab pertanyaan yang Raya lontarkan. Tangannya mengepal di samping saku celana lorengnya. Tanpa berkata apa pun, Gibran pergi meninggalkan Raya.

"Mas Gibran." 

Suara itu membuat langkah Gibran terhenti. Ia berdiri memunggungi Raya yang juga memunggunginya. Raya berbalik badan menatap punggung suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. Matanya mulai berkilat oleh air mata yang siap tumpah saat itu juga.

"Kamu cinta dengan pekerjaanmu, Mas?" tanya Raya.

Gibran diam sebentar. Ia berbalik badan menatap Raya dengan tatapan yang tajam. "Saya cinta dengan pekerjaan saya," jawabnya dengan nada rendah yang tegas.

Air mata itu akhirnya mengalir juga ketika Raya memejamkan matanya setelah mendengar jawaban sang suami.

"Saya cinta dengan pekerjaan saya, saya cinta dengan apa yang saya lakukan. Tidak pernah terpikirkan bahwa saya harus meninggalkan apa yang saya cintai selama ini. Saya tidak akan meninggalkan pekerjaan saya walaupun nyawa saya yang menjadi taruhannya," lanjut Gibran.

Melihat istrinya menangis di depannya, jujur membuat Gibran sedikit goyah. Tapi, untuk saat ini dirinya tidak boleh goyah. Apalagi saat ini emosinya sedang berkecamuk. Dirinya memutuskan untuk melenggang pergi meninggalkan Raya yang tengah menangis sendirian.

"Aku atau pekerjaan Mas Gibran?"

Pertanyaan dari Raya itu, mampu membuat langkah Gibran terhenti lagi. Tangannya semakin erat mengepal dengan rahang yang mengeras. "Jangan mengajukan pertanyaan yang tidak akan pernah kamu dapatkan jawabannya, Raya," desisnya tajam. Setelah itu, Gibran kembali melangkah lebar meninggalkan Raya.

"Aku cuma nggak mau liat Mas Gibran terluka lagi!" ujar Raya berseru. "Mas!" panggil Raya lagi, tapi Gibran sama sekali tak mengindahkannya. Kaki yang terbungkus sepatu PDL, melangkah menuju segerombolan rekan kerjanya. 

Tangis Raya semakin menjadi. Bukan tanpa alasan dia melakukan ini. Dirinya hanya tidak ingin melihat orang yang ia sayang kembali terbaring di ranjang rumah sakit.

Hampir satu menit Raya menangis. Perempuan itu mulai menegakkan tubuhnya kembali dan mengusap air matanya kasar, mengubah ekspresinya, dan langsung pergi menuju ruangannya. 

"Aku nggak bisa mengubah keputusanmu, Mas. Dan, kamu juga nggak akan bisa mengubah keputusanku."

***

Kak Nana (@GARINGKRIUKKRESS23)

Penulis