ENDLESS LOVE
Buy This Book

Deskripsi

Penulis: NINDYA IVANA 
ISBN: Sedang Diajukan 
e-ISBN : Sedang Diajukan 

Kertas: Bookpaper 52 Gram

Ukuran: 13 x 19 cm / Doff

Jumlah Hal: BW 322 Halaman

SINOPSIS 

“SELAMAT HARI KELULUSAN, SHERENA!”

Remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun menuju delapan belas tahun pada bulan Juli nanti itu berucap dengan lantang, seakan sore itu menjadi sore miliknya bersama seorang perempuan cantik, Sherena Nathania namanya.

Sherena Nathania, gadis dengan seragam sekolah yang sudah penuh dengan berbagai warna pilox dan juga tanda tangan teman-teman seangkatannya itu tertawa. “SELAMAT HARI KELULUSAN JUGA, ALFAKAR!” balasnya.

Sore itu lapangan SMA Bumi Nusa dipenuhi dengan ratusan siswa-siswi angkatan 20 yang sedang merayakan hari kelulusan mereka. Beberapa siswa-siswi itu berkumpul menjadi satu di tengah-tengah lapangan upacara SMA Bumi Nusa membentuk sebuah lingkaran. Mereka saling merangkul—menyanyikan lagu berjudul ‘Sampai Jumpa’ yang dinyanyikan oleh grup musik Endank Soekamti ketika lagu itu diputar oleh pihak sekolah melalui speaker sekolah yang menyambung ke penjuru sekolah. Beberapa siswa-siswi SMA Bumi Nusa yang lainnya sibuk dengan kegiatan lain—mencoret-coret seragam sekolah mereka dan mengambil banyak potret bersama teman-teman mereka.

Alfakar dan Sherena berdiri tidak jauh dari lingkaran siswa-siswi itu—memerhatikan mereka yang sedang beryanyi—kemudian Alfakar tertawa ketika melihat beberapa di antara mereka ada yang menangis, sedangkan Sherena memerhatikan Alfakar dalam diam.

“Kenapa lo nggak minta tanda tangan gue, Al?” Sherena bersuara, melemparkan sebuah pertanyaan yang berhasil membuat lawan bicaranya menoleh ke arahnya.

“Karena gue mau lo menjadi orang terakhir yang mengabadikan tanda tangan lo di seragam sekolah gue.” Alfakar menyodorkan sebuah spidol berwarna hitam kepada Sherena. “Sekarang lo boleh mengabadikan apa aja di seragam sekolah gue, selain tanda tangan lo yang gampang gue tiru itu,” ledeknya.

Bukannya marah karena mendapat ledekan dari sahabatnya, Sherena justru tertawa. Ia mengambil spidol berwarna hitam yang diberikan oleh Alfakar kepadanya, lalu berdiri di belakang laki-laki itu karena space pada seragam sekolah Alfakar yang masih kosong ada di bagian belakang seragam sekolah laki-laki itu.

Sebelum mengabadikan tanda tangannya di seragam sekolah Alfakar, Sherena ingin membubuhkan sesuatu yang berbeda di seragam sekolah laki-laki itu. Maka, ia putar otaknya untuk berpikir, berharap sebuah ide melintas secepatnya. Tidak lama setelah itu, sebuah ide melintas di kepala Sherena.

Gadis itu merogoh saku seragam sekolahnya, mengambil sebuah lipstik yang ia simpan di dalam sana, lalu memolesnya pada bibirnya yang pucat—tidak peduli jika nanti Alfakar akan menertawakannya karena bibirnya yang mendadak berubah warna menjadi merah merona.

Alfakar terlihat bingung karena sejak tadi tidak ada pergerakan yang dilakukan oleh Sherena di belakangnya, tetapi ia tetap memilih diam, membiarkan sahabatnya itu melakukan hal yang dia inginkan.

Sherena menempelkan bibirnya di seragam sekolah Alfakar cukup lama, berharap bentuk bibirnya tercetak dengan sempurna di sana. Senyumnya mengembang ketika melihat hasil dari mahakarya yang telah ia ciptakan di seragam sekolah Alfakar—sebuah bentuk bibir miliknya. Yang dilakukan oleh Sherena setelah itu adalah membubuhkan tanda tangannya di atas sana, lalu menuliskan nama lengkapnya di bawah tanda tangan itu agar menjadi identitas si empunya tanda tangan, sekaligus si empunya bentuk bibir yang sangat indah.

Sherena kembali berdiri di hadapan Alfakar, lalu mengembalikan spidol berwarna hitam yang telah dipinjamkan oleh laki-laki itu kepadanya. Kening Alfakar terlihat bergelombang ketika ia melihat bibir Sherena yang tiba-tiba saja berwarna merah merona.

“Gue tinggalin lo nggak apa-apa, kan?” tanya Sherena.

“Lo mau pulang ke rumah sekarang?” Alfakar melirik jam di ponselnya. “She, sekarang masih jam lima sore, lo nggak mau foto-foto lagi sama yang lain?”

“Gaharvian ngajak gue ketemuan, kayaknya dia mau kasih kejutan atas kelulusan gue.” Sherena terlihat salah tingkah ketika menyebut nama kekasihnya itu. “Lagian gue juga udah puas dari tadi foto-foto terus,” lanjutnya.

“Mau gue antar?” tawar Alfakar.

Sherena menggeleng. “Gue pergi naik ojek online aja,” tolaknya. “Bye, Al! Jangan pulang larut malam, awas aja lo trek-trekan di tengah jalan sama teman-teman lo!” peringatnya, sebelum pergi meninggalkan Alfakar.

Setelah itu, Sherena meninggalkan Alfakar yang masih setia menatap punggungnya yang kian menghilang dari pandangannya. “Semoga beneran kejutan yang bisa membuat lo bahagia, ya, She, bukan yang membuat lo sedih apalagi sampai nangis.”

Sore itu Sherena mengelilingi kota Bogor bersama driver ojek online yang akan membawanya ke tempat yang telah ditentukan oleh Gaharvian kemarin malam untuk mereka bertemu, yaitu danau Are, sebuah objek wisata danau buatan yang selalu menjadi tempat Gaharvian dan Sherena berpacaran.

“Kembaliannya ambil aja, Pak,” ucap Sherena ketika driver ojek online berusia pertengahan empat puluh tahun itu hendak merogoh uang kembalian dari dalam saku celananya ketika mereka telah tiba di lokasi tujuan setelah menghabiskan waktu selama lima belas menit di jalan.

“Terima kasih banyak, Mbak,” ucap driver ojek online itu yang di respons dengan anggukan, beserta senyuman oleh Sherena, lalu setelah itu gadis itu berlalu meninggalkan driver ojek online itu menuju pintu masuk danau Are.

“Langsung masuk aja, ya, Mbak. Tiket masuknya sudah dibayar sama Mas Gaharvian,” ucap seorang wanita muda yang bertugas menyambut kedatangan pengunjung di depan pintu masuk danau Are. Beberapa orang yang bekerja di danau Are sangat mengenal Gaharvian dan Sherena saking seringnya mereka berkunjung ke sana.

Sherena memasuki area danau Are, ia mengedarkan pandangannya—berusaha mencari sosok Gaharvian di antara banyaknya pengunjung yang datang. Ia tersenyum ketika berhasil menemukan sosok Gaharvian yang tengah berdiri di pinggir danau. Sherena langsung berlari kecil menghampiri Gaharvian, lalu memeluk laki-laki ber-hoodie abu-abu itu dari belakang.

Tidak ada pergerakan dari Gaharvian ketika Sherena memeluknya. Membuat gadis itu bingung karena biasanya jika Sherena memeluk Gaharvian dari belakang, Gaharvian pasti akan langsung membalikkan tubuhnya menjadi berhadap-hadapan dengan Sherena dan membalas pelukan gadis itu. Akan tetapi, Sherena tidak mempermasalahkan hal itu. Ia langsung berpindah posisi, berdiri di sebelah laki-laki itu. Sherena memeluk lengan Gaharvian, lalu menyandarkan kepalanya di lengan pria itu.

“Kamu sudah berapa lama berdiri di sini?” Sherena membuka pembicaraan di antara mereka.

Gaharvian diam, tidak menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Sherena. Hal itu membuat Sherena semakin bertambah bingung. Ia menoleh ke arah kekasihnya itu—menatap Gaharvian yang tatapannya lurus ke depan untuk memastikan bahwa laki-laki itu baik-baik saja.

“Gar, kamu baik-baik aja, kan?” tanya Sherena khawatir.

“Aku mau kita putus,” ucap Gaharvian tiba-tiba setelah berdiam cukup lama.

Sherena terdiam, tangannya yang sejak tadi memeluk lengan Gaharvian mengendur secara perlahan. Ia berusaha mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan oleh laki-laki itu. “Kamu apa-apaan, sih, bercandaannya jelek banget! Nggak lucu, ah!” kesal Sherena.

“Aku nggak bercanda, Sherena,” pertegas Gaharvian.

Napas Sherena tercekat. “Tapi kenapa, Gar? Aku ada salah apa sama kamu?”

Gaharvian tidak dapat menjawab pertanyaan Sherena. “Lihat aku, Gaharvian, dan jawab pertanyaan aku!” sentak Sherena, menarik lengan Gaharvian secara paksa agar laki-laki itu menghadapnya dan menatapnya. “Aku ada salah apa sama kamu?!” ulangnya, meninggikan suaranya. Tatapan Gaharvian dan Sherena saling beradu. Sorot mata Gaharvian ketika menatap Sherena masih sama, menyiratkan rasa cinta yang masih ada.

“Nggak ada, She.”

“Terus kalau aku nggak ada salah sama kamu, kenapa kamu putusin aku?” Kedua mata Sherena memanas, ia sudah tidak dapat membendung air matanya. Sherena membiarkan air matanya jatuh membasahi pipinya.

Tangan Gaharvian terangkat, mengusap air mata Sherena. “Terima kasih untuk semuanya, ya?” Tidak ada penjelasan yang diberikan oleh Gaharvian kepada Sherena atas keputusannya. Gaharvian tersenyum tipis ketika menyapu air mata gadis itu, walaupun sebenarnya perasaan Gaharvian hancur berkeping-keping. “Terima kasih sudah menjadi Sherena versi terbaik untuk aku.”

Sherena menggeleng kuat ketika secara perlahan Gaharvian mulai mundur, menjauh darinya. Tidak ada yang dapat ia lakukan, selain menangisi hubungannya dengan Gaharvian yang telah berakhir tiba-tiba secara sepihak dan perginya pria itu. Gaharvian meninggalkan Sherena tanpa memberi penjelasan apapun.

Sore itu di pinggir danau Are, Sherena menangisi perpisahannya dengan Gaharvian.

***

NINDYA IVANA 

Penulis