If Dying Was a Beautiful Thing
Buy This Book

Deskripsi

Penulis: Diva Alnayra Keyza Adinta (Amariyuu)
ISBN: Sedang diajukan

Kertas: Bookpaper 52 Gram

Ukuran: 13 x 19 cm / Doff

Jumlah Hal: BW 242 Halaman

PROLOG 

PERIH YANG MENYALA-NYALA

 

Menurutmu, secara paling benar, bagaimana hidup dapat disahkan menjadi sebagaimana ia seharusnya? Mengapa; di antara hidup, selalu ada burung bangkai mengintip di antara awan-awan, selalu mengekor ia (kematian) dalam bentuk yang sukar dibedakan? Mengapa manusia perlu dihantui cemas sebab mereka (para laron-laron tanpa sayap itu) terlalu amatir (akan kehidupan), dan tak dibiarkan diam dan tenang hingga embus nafas penghabisan? Atau justru hidup akan menjadi benar jika; akhirnya tak ada lagi hal yang dapat dilakukan, sebab segalanya telah tuntas habis dilaksanakan. Atau justru hidup akan terasa ketika hari yang sesak dihujani problema tak terhingga jika dihitung jumlahnya? 

Sebagaimana manusia yang menciumi kematiannya sendiri, diuraikan sebuah hidup dan mati dalam gambaran klise berupa ilmu kasih dan mengasihani. Yang sangat rancu, abu-abu, datar tak berlagu dan dungu. Melalui coretan abstrak penuh nyawa-nyawa manusia yang belum sempat menintakan kisahnya, dipenuhi rintih yang direngkuh oleh kasih. Seperti malam nan temaram lalu diberi sejerat kilau, upaya menghidupkan sesuatu yang telah hilang. Atau mungkin, dibanding penjabaran tak terkira, pena-pena usang itu mulai menari di atas kertas berdebu tanpa empu yang mengendarai atau tuan yang menghakimi. Pena-pena itu dengan bebas menari-nari. Membeberkan segala informasi rahasia, yang terselip di antara kumpulan paragraf bernyawa sebelum kematian menagih jumpa.

                                      

Sesaat sebelum kematian, di gubuk putih yang kumuh dengan corak merah tanpa pola, pada susunan tembok kayu basah dilalap hujan, seonggok jasad dan tigaperempat nyawanya berlalu lunglai menyeret paksa kaki di antara gempuran angin besar. Malam yang petang nan pekat menjelma jadi merah kepedihan, burung gagak seolah-olah pembawa berita bahagia, bahwa ia, yang tengah larut di tengah gelapnya angkasa akhirnya dibebaskan dari kurungan penjara yang hanya muncul saat ia menutup mata. 

Alkisah, di salah satu Yogyakarta yang putih telah dicoreng paksa dengan segelintir darah yang menodai—dengan hangat diserbu kumuh dan hina, 

Yogyakarta tak lagi seindah sebelumnya. Deras hujan menderu bumi yang bersedih hati, sebab tanah mereka yang tak lagi suci, sebab tanah mereka kini tengah diadili. Melalui sebuah tahap klasifikasi, sebagai para ingin dan penolak yang terbagi menjadi dua kubu menjadi Si Punya dan Sang Biasa-Biasa saja, dirangkum dari sebuah lembar harian rakyat yang ditulis oleh warga biasa-biasa saja, mereka yang jelata bersusah payah menyeimbangkan hidupnya. Sedangkan para manusia berpunya, sibuk menyerapi riuhnya arti kehidupan dalam tenang. 

 

Layaknya curian yang dicomot dari Galeri Seni oleh penulis Wisanggeni Arba’atun berbunyi sebagai berikut, “dilansir dari sebuah sumber yang dikarang sendiri, bahwasanya sebuah hidup yang dihidupi menghidupkan manusia dari kematian jangka panjang berupa kesalahan sistem motorik mental/atau guna-guna dalam kepala/atau gejala penyakit jiwa.” Lalu oleh Risky AlasRoban dari artikel digital berjudul Jiwa-Jiwa yang Terbang dan Terlalu Tinggi memaparkan “Mereka para hidup dan hidupawan tengah bersikeras bahwa hidup yang dijalani telah sesuai dengan hakikat, teori, hukum, prinsip, konsep, dan model kehidupan yang telah disahkan dalam syariat agama masing-masing (atau Islam). Sebab jika para jiwa-jiwa berangin yang rakus itu tak mendapat kepuasan dari standar sebuah ideologi kehidupan, kemungkinan adalah, nomor satu; mereka akan menjadi serakah/atau nomor dua; mereka akan berhenti dan menyerah.” Yang pada kesimpulan akhir, para Si dan Sang hanyalah palung dan jurang yang sama-sama mendaki menuju puncak kewarasan.  Upaya pertahanan untuk setidaknya tak goyah atau bahkan hinggap di terjal yang curam, di antara semua duniawi yang sementara, akal sehat lah yang menjadi satu-satunya hal yang tak dapat diterima jika nihil kehadirannya. Serta pada tahap pola pikir rumit ini kerap kali dikesinambungkan dengan kematian yang tumpul dan bercabang, dan misterius serta rahasia. Kekalahan mutlak bagi sadar melawan tumbang jika malapetaka tak habis, atau terus menerus.

 

Kendati demikian, apa jadinya jika kematian yang dihidupkan meredup menjadi sebuah manusia? Atau dalam kata lain, kehidupan seorang insan yang disusun dari organel-organel maut yang melewati pengejawantahan organik tak hidup? Apa jadinya hampa-hampa yang merajalela diberi nyawa hingga dengan bebas hinggap di seluruh dunia? Diberi akal dan sehat walau kesemestaannya berupa mati, dan nalar serta pola pikir yang membelah diri menjadi pertanyaan; Bagaimana jika segala penjuru semesta yang tak terbatas telah mendarat pada ujungnya? Kenapa mereka dengan punya yang tak terhingga hilang kendali atas napsunya? Bagaimana jika nyawa-nyawa yang beterbangan itu sesungguhnya hanya ingin melarikan diri?

Bagaimana jika mereka hanya ingin berlari?

Bagaimana jika mereka hanya ingin berlari?

Bagaimana jika mereka hanya ingin berlari?

Bagaimana jika mereka tak lagi bisa berlari? 


***

Diva Alnayra Keyza Adinta (Amariyuu)

Penulis