Deskripsi
Penulis: Rahmi Amanda Sakinah Nasution (AMI RAHMI)
ISBN: Sedang Diajukan
e-ISBN : Sedang Diajukan
Kertas: Bookpaper 52 Gram
Ukuran: 13 x 19 cm / Doff
Jumlah Hal: BW 302 Halaman
PROLOG
Maret, 2010
“Susu ibu hamil yang aku beli kemarin ada yang hilang,\" ujar Andin pada seluruh keluarga. Susu khusus untuk ibu hamil itu baru Andin beli dua hari yang lalu. Namun, jumlahnya sudah berkurang satu padahal ia belum membuka kaleng yang baru.
“Hilang? Dicuri maksudnya?” tanya Margaretha, mertua perempuan Andin yang memiliki darah keturunan Belanda.
“Iya, Ma, dicuri,” jawab Andin penuh keyakinan.
Pencurian susu ibu hamil. Memang terdengar aneh dan tidak mungkin, tetapi hal ini memang benar terjadi. Bukan tanpa alasan Andin mengatakan susu ibu hamil yang dibelinya telah dicuri. Andin menyaksikan dengan mata dan kepalanya sendiri susu itu diambil oleh asisten rumah tangganya yang juga tengah hamil muda seperti dirinya.
“Siapa yang mau ambil barang receh seperti itu? Mungkin kamu lupa menaruhnya di mana.” Antonio memberi sugesti positif pada istrinya. Hormon ibu hamil memang tidak bisa diprediksi. Tiba-tiba merasa sedih, marah, bahkan curiga seperti sekarang.
“Tapi aku lihat Marni yang ambil!” Andin coba menegaskan kejadian yang dilihatnya beberapa menit lalu.
“Marni? Dia dan suaminya bekerja di rumah ini bukan baru hitungan bulan, tapi sudah beberapa tahun. Selama ini kita enggak pernah kehilangan barang,” jawab Antonio. Ia bukan ingin membela Marni dan sang suami, tetapi sebagai kepala keluarga, Antonio cukup ketat mengawasi orang-orang di rumah ini, termasuk asisten rumah tangga dan sopir mereka itu.
Marni dan Ginanjar mulai bekerja dengan keluarga Jagadhita sekitar tiga tahun yang lalu. Pasangan suami-istri itu terpaut umur yang tidak jauh dengan sang majikan. Sama seperti Andin, Marni juga tengah hamil muda. Marni dan Ginanjar memang tinggal di rumah ini dan diberi fasilitas kamar yang cukup untuk berdua. Keberadaan Marni membuat rumah ini jadi menampung dua ibu hamil.
“Tapi, faktanya susu itu benar-benar diambil sama Marni!” kata Andin tanpa ragu.
Sebagai seorang wanita yang lebih tua, Margaretha merasa harus memberi pandangan. “Mungkin Marni sengaja ambil susu itu bukan bermaksud untuk mencuri. Sebagai seorang ibu, dia ingin memberikan yang terbaik untuk anak yang dikandungnya. Perbuatannya tidak dibenarkan, tapi mungkin naluri ibu muda yang mendorongnya,” ucap Margaretha, mengingat masa-masa mudanya dulu yang begitu menggebu-gebu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya.
“Aku paham, Ma. Tapi, andai Marni minta dengan cara baik-baik, aku enggak mungkin tolak. Bahkan aku bisa berbagi lebih dari sekadar susu ibu hamil untuk Marni,” balas Andin.
“Ya, tapi mau bagaimana lagi? Agak memprihatinkan hamil dengan himpitan ekonomi.” balas Margaretha seraya menghela napas panjang.
“Panggil Marni dan Ginanjar kemari.” Lelaki yang sedari tadi diam itu akhirnya buka suara. Beliau adalah Prabu Jagadhita, kepala keluarga Jagadhita dan ayah dari Antonio. Beliau adalah pemilik perusahaan konstruksi terbesar di negara ini. Perusahaannya sering bekerja sama dengan pemerintah dan dipercaya memegang proyek nasional skala besar. Bisnis yang beliau bangun bukan dalam waktu singkat, butuh puluhan tahun untuk sampai di titik bergelimang harta. Kekayaan itu membuat keluarga mereka selalu menjadi sorotan media.
“Sudahlah, enggak perlu diperpanjang,” kata Antonio.
“Panggil mereka!” debat Prabu pada putranya.
Marni dan Ginanjar datang tak lama kemudian. Mereka berdiri dengan kepala menunduk di hadapan seluruh keluarga Jagadhita. Marni menangis tersedu-sedu setelah mendengar alasan mereka diminta menghadap malam ini. Berulang kali Marni mengucapkan kata maaf, terkhusus pada Andin. Sementara Ginanjar yang tidak tahu perbuatan istrinya bingung harus membela diri seperti apa.
“Pak, Bu, saya minta maaf atas nama istri saya.” ucap Ginanjar sambil menekuk lututnya. Ia berusaha meminta kerendahan hati keluarga Jagadhita.
“Kamu tidak membelikan susu hamil untuk istrimu? Kamu tidak memberikan gizi yang cukup selama masa kehamilannya?” tanya Antonio dengan serius.
“Sudah, Pak. Sudah. Saya sudah belikan susu ibu hamil untuk istri saya, tapi tidak sebaik milik Ibu Andin. Uang gaji kami harus dibagi dengan biaya persalinan, biaya pakaian, dan biaya lain setelah melahirkan nanti. Saya sudah mengusahakan yang terbaik.” Bibir Ginanjar gemetar menjelaskan kondisi mereka.
“Sa— saya cuma mau anak saya merasakan seperti apa yang dirasakan anak Ibu Andin. Menikmati susu mahal dan makan bergizi. Maaf saya lancang. Maaf.” Marni terisak pilu, siapa saja yang mendengarnya akan merasa iba.
Andin beranjak dari sofa, menghampiri Marni yang tak berani mengangkat wajah. Marni berdiri dengan badan gemetar. Pakaian lusuh Marni membuat perasaan iba Andin semakin besar.
“Marni, harusnya kamu bilang kalau mau susu ibu hamil. Atau kamu mau makanan yang bergizi. Kamu tinggal ngomong. Enggak perlu kamu ambil diam-diam sampai jadi keributan begini. Kamu tinggal di rumah ini sudah tiga tahun. Kamu sudah saya anggap seperti saudara sendiri. Anak dalam kandunganmu juga saya anggap sebagai anak saya juga, jadi dia berhak mendapatkan yang terbaik.” Andin berdiri tepat di depan Marni sambil memberikan pengertian bahwa Marna tidak perlu sungkan.
“Maaf, Bu.” Marni masih tak berani menatap majikannya.
“Marni, kamu tidak perlu pusing masalah anak dalam kandunganmu itu. Sudah, masalah persalinan kami yang akan biayai di rumah sakit yang sama dengan menantu saya, bahkan dengan fasilitas yang sama. Saya kasihan lihat kamu dan anakmu. Kalau ada masalah, cerita pada kami,” jelas Margaretha.
Marni mengangguk. Senyum perlahan memancar di wajahnya.
“Saya juga kasihan sama kamu, Marni. Nanti kalau saya belanja perlengkapan bayi, saya juga akan belikan untuk kamu juga. Jadi anak-anak kita menggunakan barang yang kembar. Pasti lucu.” Andin membesarkan hati Marni.
Lagi-lagi Marni mengangguk dengan senyum yang kian lebar. “Terima kasih, banyak, Bu!”
“Anak kamu juga akan merasakan hal yang sama seperti anak saya.” Andin tersenyum tulus pada pembantu rumah tangganya itu.
“Maaf, Bu, saya jadi merepotkan begini. Bahkan untuk keperluan anak ini saya harus menyusahkan keluarga Ibu Andin.” Marni menyesali ketidakmampuan ekonominya dan sang suami.
Seorang anak tidak dapat memilih akan dilahirkan di keluarga yang mana. Tidak bisa memilih miskin atau kaya. Tidak bisa meminta orangtua yang mapan atau kekurangan. Terdengar tidak adil, tetapi begitulah cara takdir bekerja.
***
Tangan Marni mengusap perutnya yang sedikit membuncit dengan gerakan halus. Matanya menatap jam dinding yang bergerak sesuai dengan ritme. Pandangannya kosong. Ada banyak gejolak yang tersimpan pada kedua bola mata Marni. Ada sudut hati Marni yang terluka begitu dalam karena kejadian hari ini.
“Bapak.” Marni memanggil suaminya.
Ginanjar yang sedang berbaring memunggungi Marni enggan untuk berbalik. Mata Ginanjar tak kunjung terpejam meskipun hari sudah sangat larut.
“Bapak dengar apa kata mereka tadi?” tanya Marni.
Ginanjar lagi-lagi tidak menjawab.
“Kasihan,” ucap Marni dengan bibir bergetar. “Mereka kasihan sama anak ini, Pak, karena punya orang tua seperti kita. Anak ini enggak beruntung punya orang tua miskin. Anak ini harusnya hidup enak seperti anak Ibu Andin. Anak ini harusnya minum susu mahal, makan makanan bergizi, baju-baju mahal. Tapi, kita enggak mampu buat kasih semua itu. Anak ini sial sekali.”
“Marni!” Ginanjar beranjak bangun. Berteriak marah pada istrinya yang silau pada kehidupan majikan mereka.
Marni menangis kencang. Perasaan Marni terasa penuh hingga menimbulkan sesak pada ulu hatinya. Marni menyesali takdirnya yang tidak bisa menjadi ibu yang baik seperti Andin.
“Anak ini enggak beruntung punya orang tua seperti kita,” ucap Marni di antara isakannya.
Pikiran Ginanjar kusut mendengar tangisan istrinya. Air mata menumpuk di sudut mata pria bertubuh kurus itu. Helaan napas panjang dan berat terdengar dari celah bibir Ginanjar, menggambarkan betapa berat bebannya sebagai seorang ayah yang miskin.
“Takdir anak ini enggak beruntung. Anak ini enggak beruntung,” racau Marni berulang-ulang.
Ginanjar bangun dari ranjang. Dia berdiri di dekat jendela menatap halaman belakang rumah keluarga Jagadhita. Pikirannya berkecamuk.
“Anak ini terlahir jadi anak pembantu. Anak babu.”
Air mata Ginanjar akhirnya jatuh saat mendengar istrinya mengatakan anak babu. Ini bukan pekerjaan haram. Menjadi seorang pembantu rumah tangga bukan sebuah kejahatan. Menjadi anak supir bukan hal yang memalukan.
Namun, menjadi anak seorang pengusaha kaya lebih terdengar hebat. Siapa pun akan merasa beruntung menjadi bagian dari keluarga Jagadhita, bukan anak supir dan pembantu.
“Anak ini harus jadi anak yang beruntung.” Suara Ginanjar terdengar dalam.
Hening untuk sesaat. Tangisan Marni terhenti mendengar kalimat suaminya.
“Kita ubah takdir anak ini menjadi beruntung,” lanjut pria itu.
***
Rahmi Amanda Sakinah Nasution (AMI RAHMI)
Penulis






