MARRIED WITH K
Buy This Book

Deskripsi

Penulis: Fitrah Firana Adin (FIRANA ADIN)
ISBN: Sedang Diajukan 
e-ISBN : Sedang Diajukan 

Kertas: Bookpaper 55 Gram

Ukuran: 13 x 19 cm / Doff

Jumlah Hal: BW 322 Halaman

PROLOG

 

Dua tahun yang lalu.

Ruang tunggu klinik kandungan pagi itu tidak terlalu ramai. Aroma antiseptik bercampur wangi kopi dari pantry kecil di sudut ruangan membuat suasana terasa tenang, tetapi tangan Kanala tetap dingin sejak tadi. Jemarinya terus meremas rok yang ia kenakan dengan gugup melanda hatinya.

“Nggak apa-apa, everything will be fine.” Digenggamnya tangan Kanala penuh hangat. Keenan mengulas senyum manisnya untuk memberi semangat pada sang istri.

Perempuan itu mengangguk percaya. Afirmasi yang diberi oleh Keenan cukup membuat gunda gulana di hatinya berkurang. Helaan napas menandakan ia memiliki prediksinya sendiri tentang hasil pemeriksaan.

Satu tahun lalu, mereka kehilangan calon bayi di usia kandungan sepuluh minggu. Kejadian tersebut membuat pasangan itu mengalami trauma terutama untuk Kanala. Setelah memutuskan menunda momongan, keduanya pergi ke dokter kandungan untuk melakukan pemeriksaan alat reproduksi sebelum melakukan program hamil. Pasalnya, Kanala merasa ada perubahan pada tubuhnya. Akhir-akhir ini berat badan perempuan itu lebih cepat naik serta timbul jerawat membandel meski sudah diobati. Siklus menstruasinya juga mulai berantakan yang membuat Kanala bimbang.

Keenan dan Kanala masuk ke ruang pemeriksaan setelah nama mereka dipanggil perawat. Ruangan itu terasa hangat dan terang bak merangkul mereka yang ada dalam kegelisahan. Hingga seorang dokter laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun menyambut keduanya dengan senyum profesional.

“Selamat pagi, Bu Kanala dan Pak Keenan. Ketemu lagi kita,” sapa Dokter Harjoto yang sudah mengenal pasangan tersebut sejak setahun yang lalu. Sudah lama tak bertemu, rasanya sang dokter tahu tujuan sejoli itu datang ke tempatnya. Ia langsung membuka rekam medis di komputer. “Mau promil ya? Hm, setelah keguguran tahun lalu ada keluhan apa saja?” ujarnya tak basa-basi.

Kanala menarik napas sebelum menjawab. “Ini, Dok, sudah tiga bulan menstruasi saya nggak teratur. Kadang cuma muncul flek dan berlangsung tiga hari saja. Terus saya ngerasa berat badan saya tiba-tiba naik, padahal saya tipe orang yang susah naikin berat badan kalau nggak bulking. Terakhir saya cek naik delapan kilo selama tiga bulan.”

“Ada jerawat dan rambut rontok?”

“Iya, ada,” jawab Kanala sembari dicek tekanan darahnya.

Dokter langsung mencatat apa yang Kanala keluhkan. “Kalau gitu, kita cek USG dulu ya untuk melihat kondisi rahim dan ovarium.”

Duh, Kanala kembali gelisah. Ia reflek menoleh ke arah Keenan yang terus menggenggam telapak tangannya. Ada ketakutan yang terlihat di pupil perempuan itu. Namun, Keenan terus memberinya afirmasi kecil agar Kanala tetap tenang.

Kanala diminta berbaring di bed pemeriksaan. Tirai ditutup, perawat membantu menyiapkan kain penutup sementara dokter menyalakan monitor USG. Keenan menemani perempuan itu di samping bed-nya dengan duduk manis serta genggaman tangan yang setia ia berikan untuk menguatkan perempuannya.

Sejenak ruangan menjadi hening. Dokter Harjoto mulai melapisi probe dengan pelapis khusus berbahan karet lalu memasukkan secara perlahan ke dalam rahim Kanala yang pernah dikuretase.

“Rahimnya bagus,” katanya tenang. “Tidak ada tanda masalah serius atau bekas yang berbahaya setelah keguguran kemarin.” Dokter Harjoto mengamati layar beberapa saat.

Keenan dan Kanala agak lega, tetapi dokter masih fokus memeriksa bagian ovarium. Saat melihat layar monitor, terlihat gumpalan bulatan kecil mirip seperti gelembung. Intensitas bulatan itu nampak banyak, membuat raut wajah dokter sedikit serius.

“Bisa dilihat ya sel telur di ovarium kanan dan kiri berbentuk folikel kecil yang cukup banyak. Ini mengarah ke PCOS ringan.”

Kanala langsung menoleh. “PCOS itu susah hamil ya, Dok?” ujarnya menurut pemahaman yang pernah ia baca.

“Bukan berarti nggak bisa hamil,” jawab dokter cepat menenangkan. “PCOS ringan cukup sering terjadi. Biasanya dipengaruhi oleh hormon yang tidak seimbang dalam tubuh, jadi sel telur nggak bisa berkembang sehingga tidak jadi ovulasi secara rutin. Ini juga ditandai dengan resistensi insulin yang menyebabkan kenaikan berat badan.”

Dokter Harjoto memutar monitor sedikit agar mereka bisa melihat gambar ovarium dengan jelas. “Biasanya pada sel telur yang normal salah satu folikel akan berkembang karena siap untuk dibuahi. Tapi di sini bisa dilihat jika folikelnya sangat kecil-kecil seperti gelembung. Namun kalian tidak perlu khawatir, kondisi ini masih bisa ditangani apalagi usia Ibu masih bagus,” ujar sang dokter mengulas senyum.

Uraian napas lega terdengar lirih di bibir Kanala. Jantungnya hampir merosot jika dinyatakan tak bisa hamil kembali. “Jadi saya masih bisa promil, Dok?” tanyanya agak ragu.

“Tentu.” Dokter menyelesaikan pemeriksaan. Ia lalu menjelaskan prosedur program hamil secara bertahap. “Pertama, kita perbaiki dulu pola hidupnya. Penderita PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome itu kebanyakan karena stress atau pola hidup yang tidak sehat. Jadi sekarang difokuskan untuk memiliki pola hidup yang sehat. Tidur yang cukup, olahraga ringan, dan kurangi gula. Mungkin nanti ada beberapa makanan yang harus diubah seperti nasi putih jadi nasi merah, terus konsumsi dada ayam, ikan salmon, alpukat, kacang-kacangan, serta sayuran atau buah yang kaya antioksidan. Itu bagus buat mengontrol gula darah,” beritahu sang dokter.

“Kalau tepung-tepungan gitu boleh nggak, Dok?” sahut Keenan ingin tahu.

“Tepung-tepungan sementara dikurangi ya. Olahan tepung itu tinggi karbohidrat yang memicu lonjakan gula darah.”

“Ya, nggak bisa makan mie ayam dong,” ujar Kanala kecewa. Ia pikir setelah ini tak dapat makan makanan favoritnya.

“Boleh sesekali, yang nggak boleh itu kalau setiap hari makan mie ayam, Bu.” Dokter Harjoto membalas dengan tawa lirih yang mencairkan suasana. “Oh ya, selain mengatur pola hidup, Bu Kanala juga harus menghindari stress. Stress itu faktor utama yang mempengaruhi menstruasi jadi tidak teratur. Kalau Bu Kanala happy, nanti hormon kesuburan bakal datang dengan sendirinya.”

Yang dikatakan dokter itu terasa benar. Setelah keguguran, Kanala banyak mengalami tekanan emosional dan mental. Ia sering merasa kurang serta gagal menjadi seorang perempuan. Akibatnya perempuan itu menjadi stress sampai mengganggu jam tidurnya. Kanala juga menjadi sulit berkonsentrasi sehingga mudah terdistraksi oleh sekitar.

“Nanti suami bisa melakukan tes darah hormon, cek gula darah, dan pemeriksaan sperma ya, karena untuk menjalankan program kehamilan kita harus cek kesehatan reproduksi dari kedua pihak, bukan hanya istri.” Dokter menulis hasil pemeriksaan di atas kertas beralas yang baru diberikan perawat.

Keenan mengangguk paham. “Kalau sudah diperiksa, apakah nanti bakal dikasih obat agar sel telurnya bisa berkembang, Dok?” tanyanya penasaran.

“Tentu. Nanti kalau hasilnya sesuai kita akan bantu dengan obat pemicu ovulasi supaya sel telurnya matang dan keluar di waktu yang tepat. Obat itu butuh pemantauan, jadi akan ada USG berkala untuk melihat perkembangan sel telur. Biasanya kontrol di hari tertentu setelah menstruasi.” Dokter Harjata kembali menjelaskan.

Pembawaan yang tenang selalu berhasil membuat pasien merasa nyaman. Tak heran jika dokter obgyn senior itu menjadi dokter andalan ibu hamil di salah satu rumah sakit yang ada di Kota Malang.

Dokter Harjata lalu menjelaskan kemungkinan jadwal hubungan suami istri selama masa subur, apa saja vitamin yang perlu diminum, serta asam folat yang harus mulai dikonsumsi sejak program hamil dimulai. Ia juga memberi afirmasi agar Kanala terus semangat menjalani kehidupan agar program hamil berjalan dengan lancar.

“Nggak apa-apa, promil itu proses. Kalau kalian merasa cemas itu wajar, tapi Alhamdulillah hasil pemeriksaan hari ini menunjukkan peluang kehamilan yang baik.”

Kalimat itu membuat bahu Kanala yang sejak tadi tegang perlahan mengendur. Ia menatap sang suami dengan binar penuh harapan di kedua netranya. “I thought we were going to hear something worse, Mas.

Genggaman yang setia tak dilepas itu semakin erat. “Nothing will happen, Sayang. Don’t worry about anything, ya? Kita jalani pelan-pelan.” ujar Keenan lalu memberi kecupan manis di kening Kanala.

***

Fitrah Firana Adin (FIRANA ADIN)

Penulis