Deskripsi
Penulis: Fatimatuzzahro (IRESSABELLE)
ISBN: Sedang diajukan
e-ISBN: Sedang diajukan
Kertas: Bookpaper 52 Gram
Ukuran: 13 x 19 cm / Doff
Jumlah Hal: BW 282 Halaman
PROLOG
Pinwheel, kincir-kincir angin raksasa mulai berputar beriring dengan embusan angin dari sisi barat kota Haarlem, Belanda. Di pagi yang dihiasi pancaran sinar matahari sanggup memantulkan jernihnya air di Sungai Spaarne. Hofje Van Noblet mulai ramai oleh banyaknya penghuni yang memulai aktivitas pagi hari mereka. Haarlem masih sama, menawan dengan indahnya arsitektur bangunan bersejarah yang menghangatkan pandangan di segala suasana. Tak hayal, kota ini selalu dapat memberikan kenyamanan tersendiri bagi penduduknya.
Stroopwafel di piring menyisakan bekas saus karamel di atasnya. Kakek Galileo mengarahkan kursi roda otomatisnya berpindah ke ruangan lain, meninggalkan cucu dan cucu menantunya usai menghabiskan sarapan. Bulan mengumpulkan satu persatu alat makan kotor dalam satu tumpukan, ia juga kumpulkan gelas bekas minum kakek, suami, dan dirinya sendiri. Saat ia berniat membawa tumpukan piring itu ke belakang untuk dicuci, Satya mencegahnya. Lelaki itu langsung mengambil alih tumpukan piring di tangan Bulan.
“Aku aja yang cuci, Mas.” Bulan mencegah, kedua jemarinya menahan piring yang sejatinya sudah berada di tangan Satya. “Aku, kan, menantu kakek yang rajin. Biar aku aja yang cuci semuanya,” sambung perempuan itu diiringi senyum di akhir kalimatnya.
Satya menggeleng, tumpukan piring di tangannya ia lepaskan dari tangan Bulan seutuhnya. Bulan memanyunkan bibir, merasa kesal dengan tindakan Satya yang tak memberikannya kesempatan kali ini.
“Menantu bukan pembantu,” pungkas Satya.
Lelaki dengan setelan casual itu melemparkan senyum halus kepada istrinya. Namun senyuman itu nampak tak memberikan perempuannya rasa tenang.
“Aku cuma mau bantuin pembantunya kakek aja, kok. Mumpung aku di sini, kan, aku juga mau ngerasain ngurus kakek.” Bulan masih memaksa, kali ini ada sedikit penekanan di akhir kalimatnya sebagai bentuk permohonan kepada Satya.
Satya hembuskan napas pelan, ia terdiam sejenak untuk kembali berpikir. Setelah aktivitas olahraga panjang mereka semalam, rasa cinta Satya nampaknya menjadi lebih membara dari pada sebelumnya, hingga bahkan ia tak rela jika tangan perempuannya itu menyentuh barang-barang kotor.
***
Penulis






